Minggu, 10 Maret 2013

PuisiKu


HARAPAN
Oleh : Weni Lestari

Dan janji tinggallah janji,
Semua berakhir untuk saat ini,
Semua yang telah ku impikan, ku dampakan, ku harapkan,
Semua tlah hilang lenyap,
Harapan tinggalah harapan,
Semu, bisu, beku,
Tak seorang pun akan mampu mengerti, apa arti dari semua ini,
Di dunia yang fana ini, memang tak akan ada yang sempurna,
Tak kan ada yang kekal, abadi,
Semua akan hilang, musnah, suatu saat nanti.
Seperti harapan, angan, dan cita yang mungkin akan kandas..
Namun jika boleh memohon,
Hamba ingin semua tak terjadi,
Jika hamba boleh meminta,
Satu yang hamba minta,,
Keajaiban dan keadilan yang hakiki..

22 Juli 2012
WL

TAHUKAH ANDA????


Taukah Anda Asal Mula Air di Bumi????

Mungkin sebelum itu, kita pasti akan berfikir, bagaimana mungkin bumi yang dahulu pada awal pembentukannya memiliki suhu yang teramat panas dapat memiliki cadangan air pada saat itu.???
Akan tetapi pada kenyataannya saat ini, bumi kita tercinta ini memiliki banyak cadangan air sehingga dapat dihuni oleh manusia. Bagaimana mungkin dapat terjadi????

Nah, ini dia jawabannya..
          Jadi, pada awalnya pembentukannya, bumi memang memiliki suhu yang sangat panas. sehingga kemungkinan danya air dibumi ini sangatlah mustahil.
Bumi, menurut teori  pembentukan Tata Surya, pada mulanya merupakan sebuah bentukan bola gas yang sangat panas dan berputar cepat. Perputaran yang sangat cepat ini pada akhirnya membentuk planet bumi yang saat itu suhunya masih sangat panas. Panas bumi ini pada akhirnya melelehkan sebagian material pembentuk bumi yang terwujud dalam bentuk magma. Magma adalah material bumi yang mencair akibat dari pemanasan oleh suhu yang tinggi. Kaena bentuknya yang cair, maka dapat dipastikan bahwa magma ini mengandung air yang ikut terlarut di dalam magma.
          Akibat dari pemanasan yang terus menerus ini dengan disertai penyinaran oleh matahari, air yang terkandung dalam magma secara perlahan mulai menguap dan mengisi atmosfer bumi. Radiasi matahari sebagian diserap oleh magma dan sebagian lagi diserap oleh uap air. Hal ini berlangsung dalam waktu yang lama hingga menyebabkan sebagian besar air yang terkandung dalam magma menguap dan magma yang panas tadi perlahan lahan mulai memadat. Sedangkan air yang menguap tadi membentuk uap air di sekeliling bumi dan membentuk atmosfer bumi. Selanjutnya, uap-uap air ini setelah terkumpul cukup banyak mengalami kondensasi sehingga turunlah hujan yang pertama dibumi. Magma yang tadinya panas menjadi dingin oleh guyuran hujan. Peristiwa ini berlangsung terus menerus hingga menyebabkan bumi menjadi banjir. Setelah berjuta-juta tahun lamanya peristiwa siklus hidrologi awal ini terjadi, lama kelamaan terbentuklah benua dan lautan pertama di Bumi dengan benua pertama adalah 'Pangea', sedngakan lautannya adalah 'Pantalesa'. 

Begitulah awal mula timbulnya air di Bumi kita tercinta ini.
Semoga bermanfaat. ^_^

(Sumber : Kuliah Hidrologi, Pendidikan Geografi UNY 2013)

Kamis, 07 Maret 2013

KILASAN

CANTIK

Kalau seorang wanita itu cantik, dengan apa kau ingin menukarnya?
dengan apa kau  ingin membelinya?
mengapa sedemikian besar keinginan mu memilikinya?

karena memiliki mata bagiku adalah kerugian
kecantikan itu membutakan

Kecantikan ibarat melihat pemandangan yang indah 
Jelita dalam wujud manusia

Bukankah lebih baik aku dilahirkan tanpa bisa melihat?
Agar mata tidak dapat menipuku
Agar kedipan dan ilusi tidak bisa membutakanku
Mata, jangan kau membohongi aku.
Jangan khianati pikiranku dengan keindahan yang sementara

Kisah-kisah lama menyebutkan
Malaikat-malaikat turun karena melihat eloknya anak gadis manusia
Ksatria bertempur dan berperang memperebutkan gadis jelita
Darah tumpah, kota dibakar, manusia dibunuh

Apakah zaman kini telah berubah??????

(Dikutip dengan perubahan, dari Karangan Prabamoro, Aquarini Priyatna, 2003)

Rabu, 30 Januari 2013

RENUNGAN


SUDAH EFEKTIFKAH TEMPAT SAMPAH DI KAMPUS MERAH KU??


Mungkin inilah pertanyaan yang terbersit dibenak kita sebagai penghuni kampus merah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Bagaimana tidak, di lingkungan kampus tercinta ini suatu benda yang bernama sampah tidak akan pernah terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampah merupakan suatu hal yang pasti ada disekitar kita, baik itu dalam bentuk sampah basah maupun sampah kering, baik itu di tempat yang terlihat kumuh maupun di tempat yang bersih sekalipun, sampah pasti akan tetap ada karena sampah merupakan bagian hidup manusia yang akan terus ada selama manusia masih berkembang.
Di setiap tempat, disetiap sudut pasti akan kita temui sampah meski itu dalam ukuran yang kecil. Sampah-sampah ini dapat berasal dari berbagai aktifitas yang dilakukan oleh manusia dalam hal ini adalah penghuni kampus mulai dari tukang kebun, mahasiswa, dosen serta jajaran birokrasi yang lain. Sampah-sampah ini haruslah diatur atau dikelola dengan baik. Jika tidak, maka akan menimbulakan berbagai macam masalah seperti bau yang tidak sedap, hilangnya keindahan, pemadangan yang tidak menyenangkan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pengelolaan sampah harus dilakukan dengan baik misal dengan cara menyediakan tempat sampah di setiap sudut kampus seperti di taman kampus, di toilet, di dalam kelas, di ruang dosen, atau bahkan diruang  dekan. Namun sayangnya, terkadang manusia menjadi sombong sehingga sering membuang sampah disembarang tempat meski telah disediakan tempat sampah di berbagai sudut kampus. Atau kalaupun telah membuang sampah pada tempat sampah, masih banyak orang yang membuang sampah tidak tepat pada wadahnya, seperti yang terjadi di FIS UNY.
Di Kampus Merah FIS UNY, telah disediakan banyak tempat sampah pada setiap sudut kampus. Pada setiap sudut, tempat sampah yang ada terdiri dari dua tempat sampah yaitu tempat sampah dengan warna biru dan berwarna orange. Pembedaan warna ini bukan tanpa tujuan akan tetapi memiliki makna yang sangat signifikan yaitu untuk membedakan mana tempat sampah untuk sampah basah atau sampah organik dan mana tempat sampah untuk sampah kering atau sampah non organik. Tempat sampah berwarna orange diperuntukkan bagi sampah basah atau sampah organik seperti daun-daun, ranting, bungkus makanan dari daun pisang, kertas, dan lain sebagainya yang merupakan jenis sampah yang mudah untuk diuraikan oleh mikro organisme. Sedangkan tempat sampah berwarna biru diperuntukkan bagi sampah anorganik atau sampah yang sulit diuraikan kembali oleh organisme di dalam tanah seperti plastik, kaca, dan masih banyak lagi.
Namun yang terjadi saat ini, masih banyak mahasiswa yang membuang sampah secara asal tanpa memperhatikan mana tempat sampah untuk jenis sampah basah dan mana tempat sampah untuk jenis sampah kering. Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan mahasiswa akan makna warna pada tempat sampah serta didukung juga oleh adanya pengangkutan sampah oleh petugas yang tidak memisahkan antara sampah organik dan anorganik.
Universitas sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kepada seluruh sivitas akademika agar selalu menjaga lingkungan. Hal ini tentunya sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan tersebut, maka sangat jelas bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang cinta lingkungan, kebersihan, keindahan serta kenyamanan sehingga terwujudlah lingkungan yang sehat. Apabila lingkungan sehat, maka proses pembelajaran yang berlangsung di lembaga pendidikan ini pun akan menjadi lebih efektif dan efisien.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan usaha yang terintegrasi antara mahasiswa, dosen, serta jajaran birikrasi dalam hal pemanfaatan tempat sampah agar menjadi lebih efektif. Sosialisasi kepada seluruh warga kampus sangat diperlukan agar mereka memahami arti dari warna tempat sampah tersebut sehingga parapenghuni kampus dapat membuang sampah pada tempatnya dan tepat pada tempatnya agar pengelolaan lebih lanjutnya pun akan lebih mudah. Selain itu, pihak birokrasi perlu pula mensosialisasikan serta menentukan kebijakan agar masalah pengangkutan sampah dari setiap tempat sampah benar-benar sesuai dengan yang semestinya yaitu dilakukan pemisahan antara sampah basah dan sampah kering sehingga sampah sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali dan mengahsilkan profit yang cukup menjanjikan. Selain itu, perlu pula dibentuk suatu lembaga yang menangani masalah sampah ini dengan tugas untuk memanagemen terkait sampah ini mulai dari pemisahan saat pembuangan sampah awal pada tingkat yang paling rendah hingga ke pemebuangan sementa maupun ke pembuangan akhir.

Weni Lestari
Pendidikan Geografi

Selasa, 24 Juli 2012

SASTRA


Sebuah ironi
Mungkin sekarang tak akan ada lagi yang peduli,
apakah akan tetap bertahan ataukah lenyap ditelan bumi..
Entahlah,,
aku sendiri tak mengerti dan memahami,
akan semua yang telah terjadi.
Beginikah takdir yang digariskan-Nya untuk ku?
menghadapi semua sendiri, tanpa ada seorang pun untuk berbagi.
Karena memang tak akan ada yang mau mendengar dan mengerti..
Yaaaa....
hidup memang terkadang terasa begitu kejam,
bak episode sinetron yang tak akan bernah berakhir,
semua bergulir tiada terhenti, saling berhubungan, saling terkait satu dan yang lainnya..
Sandiwara..
sandiwara kehidupan yang akan selalu abadi,
mengisi setiap jiwa-jiwa yang lemah..
jalan ceritanya bisa saja berubah,
semua bertumpu pada sang tokoh utama.
Apakan mampu bertahan dan mengatasi semua,
memecahkan setiap persoalan tanpa terkecuali.
atau kah akan menyerah, pasrah pada takdir yang menghampiri..
putus asa, lemas dengan keadaan...
Andai itu terjadi, maka satu hal yang pasti,
cerita akan berakhir tragis penuh ironi,
kebenaran pun akan tersembunyi,
abadi di balik kabut tebal yang akan selalu menyelimuti..
Sungguh hidup adalah ironi....

Rabu, 06 Juni 2012

CERPENKU

HANYA SEBUAH HARAPAN

Ketika sebuah masalah datang, tak semua orang mampu menyelesaikan masahnya dengan sempurna. Hanya orang-orang yang memahami arti kehidupan saja yang mampu menyelesaikanya. Ketika sebuah ujian adtang kepada seseorang, saat itulah keimanannya diuji. Mampu atau tidaknya ia menghadapinya tergantung pada seberapa besar keimanannya kepada Tuhannya.
Dalam cerita ini yang ada ialah sebuah perjuangan gadis kecil dalam menjalani kehidupannya yang penuh dengan liku-liku. Bahkan dalam usianya yang masih sangat belia ini dia harus mengahadapi kenyataan bahwa dirinya hidup sebatang kara tanpa adanya kasih sayang seorang ibu atau pun ayah.
Ya, kedua orang tuanya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih kecil dulu. Saat itu bencana tengah menghantam desanya. Desa yang berada jauh dari keramaian, berada di tepi hutan nan sepi, sunyi. Perusakan hutan membuat penghuninya marah dan memporak porandakan apa yang ia temui. Saat itu terjadi ia masih berusia 16 bulan. Sedang dalam masa pertumbuhan.
Pagi itu, semua penduduk desa tengah melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mencangkul di ladang samping rumah, ada yang sedang memberi makan ternak unggasnya, dan aktifitas-aktifitas keseharian yang lain. Tak diketahui dari man datangnya, tiba-tiba segerombolan hewan hutan menerjang desa kecil itu tanpa ampun. Gajah-gajah yang besar dan liar membabi buta menghancurkan setia sudut desa. Ular-ular merayap menggerayangi setiap ruas jalan tanah yang ada menuju ke rumah penduduk dan menyerang penghuninya tanpa pandang bulu. Di sudut desa yang lain, tampak segerombolan singa dan macan mengamuk membuat seisi desa menjadi kacau dan dihantui kepanikan dan ketakutan.
Ketika itu, sang gadis kecil sedang bermain-main di halaman belakang sendirian. Sementara sang ibu tengah memasak di dekatnya sembari mengawasi sang anak, ayahnya tengah berkebun di samping rumah. Mendengar kekacauan yang terjadi sang ibu lantas panik dan ketakutan dan serta merta menggendong sang anak masuk rumah. Namun naas sang singa mampu menembus pintu dan membunuh sang ibu. Sementara sang gadis kecil hanya menangis ketakutan.
Dalam sekejap desa telah luluh lantah dan tak ada seorng pun yang masih hidup. Tak berapa lama setelah kejadian itu datang seorang pemburu yang tenagh melintas. Melihat sang gadis kecil sendirian merana melihat saudara se desanya telah pergi, tak tega pula dia. Lantas dibawanya sang agdis kecil ke gubugnya dikota. Di sana sang gadis dirawatnya bak putri sendiri. Hingga kini telah tumbuh menjadi gadis kecil yang tearmat manis.
Selama hidupnya di kota, ia tahu bahwa dirinya telah sebatang kara. Namun perjuangan hidupnya tiadalah mudah. Banyak hal yang ia hadapi dan temui di kota. Bapak angkatnya bukanlah seorang yang kaya, mak ia harus bekarja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bapak angkatnya. Terlebih saat bapaknya mulai renta dan telah sakit-sakitan. Ia berjuang sendiri untuk mrnghidupi dirinya dan bapaknya.
Mungkin diantara kita hal itu adalah hal yang sangat luar biasa, namun bagi si gadis kecil ituadalah kesehariannya yang selalu ia lalui. Terkadang ada rasa iri pada teman2 sebayanya yang ia  temui di jalan ketika bekerja. Ia ingin seperti mereka yang bisa sekolah, belajar dan bermain. Namun apa daya. Angan tinggallah angan. Yang bisa ia lakukan hanya bermipi dan membayangkan itu akan terjadi pada dirinya.
Namun takdir berkata lain. Ia harus hidup seperti ini, menjadi gadis manis yang hanya bisa bermimpi. Yang mampu ia lakukan hanyalah berdoa agar suatu sat nanti ia akan mampu mewujudkan mimpinya..

Minggu, 22 April 2012

TRAVELLING FOREVER


Hari ini (Minggu, 11 Maret 2012) aku jalan-jalan sama teman-teman. Tujuannya adalah Kota Solo. Ya, kota yang berada di sebelah timur Yogyakarta. Kami bermaksud untuk mengunjungi Kraton Kasunanan Solo atau lebih dikenal dengan Kraton Surakarta. Setelah dari sana kami berencana akan mampir ke pasar Klewer yang tak jauh dari kraton Kasunanan Surakarta.
Aku dan keempat temanku (Kiki, Neni, Lutfi dan Fita) dengan mengendarai sepeda motor kami bertekad sampai ke Kota Solo. Aku berboncengan dengan Neni, Kiki dengan Fita, sementara Lutfi sendirian. Namun hal itu tak menyrutkan niat Lutfi untuk menaklukkan jalanan menuju Kota Solo. Kami dapat dibilang termasuk nekat sebab belum begitu mengenal Kota Batik itu. Tak ada satu pun diantara kami yang pernah ke Solo kecuali Neni. Aku sendiri hanya pernah lewat saja. Jadi dapat dibilang kami tak mengenal Solo. Hanya dengan berbekal peta yang diperoleh dari searching di internet dan pengetahuan geografi serta modal nekat kami pun berangkat.
Kami memulai perjalanan dari Jogja sekitar pukul 08.30, dengan menyusuri Jl. Yogya-Solo lurus ke arah timur hingga sampai ke Obyek wisata Prambanan masih ke timur lagi. Begitu panjang jalan yang kami lewati. Aku duduk di jok motor belakang dan sesekali melihat sekeliling menikmati pemandangan Kota Jogja yang sudah panas hampir mirip Jakarta meski tak sampai separah di Jakarta yang banyak keamcetan di sana-sini. Ketika memasuki daerah Klaten, tepatnya di dekat RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro salah satu motor kami ada yang bocor bannya yaitu motor Kiki. Jadi terpaksa kami menunda perjalanan sejenak untuk menambalkan ban motor tersebut agar dapat dikendarai lagi. Beruntung ada bengkel tambal ban yang bersedia menambalkan ban motor Kiki. Sembari menunggu, kami beristirahat sejenak sambil bercanda dan sedikit narsis di tempat tambal ban. Maklum, namanya juga ABABIL alias Anak ABG baru labil, hehehe.. oups... ketahuan deh.. J
Ini ni, hasil jepretan di bengkel...
    
Dan ini ekspresi kiki pas motor e bocor.. hehe...
  

Setelah beberapa saat  menunggu ahirnya selesai sudah acara tambal menambalnya lalu kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Dari RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro kami belok kanan menuju jalan yang arahnya Solo. Kami telusuri satu demi satu jalan, setapak demi setapak jalan raya, menyeberangi rel kereta api yang jika ada kereata lewat suaranya sangat bising sekali. Hingga akhirnya sampailah kami di Kota Batik yang selama ini kami impikan untuk mengunjunginya dengan motor. [Hahahahaa bahagianya.. J] Kami lalu memutuskan untuk masuk ke kraton terlebih dahulu dan kemudian masuk ke Pasar Klewer.
Setelah muter-muter gak jelas dan sempat nyasar juga untuk mencari jalan menuju Kraton Solo, akhirnya samailah kami di Kraton kasunanan Solo. Perjuangan untuk menemukan Kraton Solo ini adalah dengan mengelilingi alun-alun yang ada di sebelah utara dari Kraton tersebut. Beberapa kali kami melawati jalan yang sama hingga ada salah satu dari kami yang tercecer yaitu Kiki dan Fita. Namun akhirnya kami bertemu kembali dan sampai juga di Kraton.
Sebelum masuk kraton kami sempat bertanya kepada pedagang disekitar kraton untuk sekedar memastikan bahwa jalan kami benar. Lalu kami membeli karcis masuk ke kraton sebesar Rp 10.000,- sudah termasuk karcis masuk museum kratonnya. Setelah itu kami masuk ke obyek wisata Kraton kasunanan Solo. Namun waktu telah menunjukkan pukul 12.25 yang berarti telah masuk waktu Dzuhur. Aku, Kiki, dan Neni memutuskan untuk shalat terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelajahan. Lagi pula setelah kami bertanya kepada penjaga kraton, objek ini akan tutup dalam waktu 2 jam lagi. itu berarti masih ada waktu unuk shalat terlebih dahulu tanpa takut kehilangan waktu untuk menjelajahi kraton. Sementara aku dan yang lainnya shalat, Lutfi dan Fita yang sedang halangan melanjutkan penjelajahan di dalam kraton.
Aku, Kiki, dan neni shalat di luar kompleks kraton namun tidak begitu jauh. Hanya sekitar 100 meteran dari kraton. Setelah melakukan shalat dan doa seperlunya, kami segera kembali ke kraton dimana Lutfi dan Fita sudah menunggu. Di perjalanan menuju kraton, kami sedikit berpose di pinggir jalan. [ Hehe ababil e kumat. J ]
Oya, aku jadi teringat kejadian ketika aku dan teman-teman baru tiba di kraton. Pada saat itu, kami bar saja sampai dan langsung menuju ke toilet. Hla, ketika aku sedang duduk di kursi tunggu depan toilet bersama Lutfi, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang meangaku berasal dari Blitar sedang protes kepada penjaga Kraton kareana tidak nyaman dengan keadaan toilet disana yang menurut ibu itu sangat tidak pantas dan tidak patut. Ibu itu bilang, toilet disana sangat kotor, dan memberikan saran untuk segera membersihkannya. Melihat banyak wisatawan yang datang kesana baik lokal maupun manca negara. Jika toiletnya kotor seperti itu akan menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung. Kurang lebih begitu komentar dari ibu itu.
Bapak penjaga kraton ya tidak bisa bilang apa-apa, mungkin malu dan malah menyalahkan petugaas kebersihan disana yang saat itu memang orangnya tidak ada. Entah memang ada atau hanya sebagai pengalihan atas ras malunya atau bagaimana aku tidak tahu dan tidak mau ambil pusing soal itu. Namun, aku sangat mendukung pernyataan ibu itu tadi. Sungguh komentar dan reaksi yang patut diacungi jempol serta ditiru. Sebab saat ini orang-orang yang mau perduli terhadap lingkungan sekitar seperti itu sudah sulit sekali ditemui.
Kembali ke cerita sesungguhnya, setelah selesai sholat aku, Kiki, dan Neni segera kembali masuk kedalam kraton dan menemui Lutfi juga Fita yang sedang asik duduk di teras kraton. Belakangan aku tahu, ternyata mereka tengah asik menyantap arem-arem yang dibawa Fita dari Jogja. Setelah itu kami mulai memasuki wilayah pelataran Kraton Surakarta ini. Namun alangkah terkejutnya kami melihat papan peringatan yang berbunyi bahwa setiap pengunjung yang hendak memasuki are Kraton HARUS / WAJIB melepas alas kaki kecuali jika memakai sepatu. pada saat itu aku dan Lutfi hanya memakai sandal/sepatu sandal sementara yang lainnya memakai sepatu. Alhasil, aku dan Lutfi harus merelakan sendal dan sepatu sandal kami ditinggal di luar area demi mematuhi aturan.
Kemudian kami memasuki area kraton dan setelah sampai di dalam kami mengalami sedikit kekecewaan sebab akses pengunjung sangat terbatas. Pasalnya, disana banyak terdapat papan peringatan yang melarang pengunung untuk menyentuh benda-benda di kraton misal; patung, dikarang duduk di teras pendopo kraton; dilarang mengakses area tertentu dari pelataran kraton; dilarang bawa makanan; dll yang menurut kami sangat mengganggu kenyamanan pengunjung. Di sana akses pengunjung sangatlah terbatas dan banyak pula situs-situs pelengkap seperti patung dan gerobag andong yang terbengkalai karena rusak tidak terawat. Selain itu, banyak pula hisan-hiasan dinding yang di balut kain sehingga mengurangi keindahan kraton itu sendiri. Namun, di sini kami bisa memakluminya. Kami percaya pasti semua itu ada alasannya, mungkin kareana sudah adatnya atau peraturannya begitu. Tapi jika boleh memberi saran, tolong aset-aset budaya Indonesia yang masih  tersisa dijaga, dirawat dan dilestarikan agar dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik yang lokal maupun mancanegara.
Akan tetapi, dibalik kekecewaan itu kami merasa sedikit terhibur karena ada pengunjung balita yang sangat lucu bagi kami dan merupakan pemandangan yang cukup lucu. Seorang anak balita kira-kira berusia 3 tahunan yang sedanga bermain dengan pakdhenya. Menurutku anak itu mirip Brandon karena suara dan gaya rambutnya yang mirip Brandon. Selain itu, ada satu hal lagi yang lucu yaitu kata-kata Lutfi yang menyatakan bahwa dia saat masuk kraton terasa “ditelanjangi”. Tapi jangan berfikir negatif dulu, ditelanjangi disini adalah Lutfi yang tidak memakai alas kaki sehingga jadi telanjang kaki. Begituu...
Ini dia gambarnya..... :D


Setelah beberapa lama kami puas melihat-lihat kraton, kami pun berpindah ke Museum Kratonnya. Pada rute pertama tidak ada hal yang berarti yang kami alami. Seperti museum-museum pada umumnya, Museum Kraton in menyimpan berbagai benda-benda peninggalan sejarah diantaranya ada berbagai macam jenis wayang, artefak singgahsana raja, tempat tidur raja, alat makan, alat berburu, dan kelengkapan-kelengkapan lainnya pada masa keraaan dahulu. Tak lupa disana kami berfoto-foto, bernarsis-narsis ria. Setelah puas kami pindah ke sisi lain dari Museum ini. Disana kami melihat berbagai macam bentuk kendaraan zaman dahulu seperti andong, dokar dan lainnya. Disini pula kami mengalami hal yang sangat mengagetkan. Kenapa mengagetkan?? Mau tau???? Kasih tau gak ya??? Hehe..
Jadi begini, ketika lagi poto-poto ada bapak-bapak yang menawari kita poto. Aku dan temen-temen saling pandang lalu tiba-tiba salah satu dari kami -Kiki- ditarik sama bapak-bapak penjaga disana. Alhasil dia kaget dan terpaksa mengikuti bapak-bapak itu. Lalu kami pun tidak mungkin meninggalkannya sendiri akhirnya kami mengikuti dan gak tau kenapa, bapak-bapak tadi menyembah kendaraan yang ada disana. Dan memberikan kalung warna kuning kepada dua orang diantara kami. Mungkin itu sebagai syarat, dan kemudian poto-poto disana dimulai. Dan,,, ini dia hasilnya...


           Setelah itu kami melanjutkan penjelajahan, hingga tak terasa waktu sudah beranjak sore,, lalu kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan perut tersa lapar dan sudah tidak dapat ditahan lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung makan. Karena kami tidak begitu mengenal daerah sana maka, dalam pencarian ini ya seketemunya. Hingga akhirnya ditemukanlah sebuah warung makan sederhana namun terjamin di daerah yang agak tersembunyi dari jalan raya... Begini ni,, suasana makan sore kita waktu itu,,, hehe.. 

            Setelah merasa kenyang kami memutuskan pulang ke Jogja. Selama perjalanan pulang, sempat kehijanan juga namun tak masalah sebab sudah sedia payung sebelum hujan. Hehe. Dan sekitar jam enam sorean menjelang magrib kami memasuki wilayah administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Begitlah perjalan kami hari itu.. kapan-kapan kita jalan-jalan lagi yah kawan,, nanti bagi yang mau ikut boleh deh.. hehe.. SALAM TRAVLLING FOREVER..!!! ^^