Selasa, 24 Juli 2012

SASTRA


Sebuah ironi
Mungkin sekarang tak akan ada lagi yang peduli,
apakah akan tetap bertahan ataukah lenyap ditelan bumi..
Entahlah,,
aku sendiri tak mengerti dan memahami,
akan semua yang telah terjadi.
Beginikah takdir yang digariskan-Nya untuk ku?
menghadapi semua sendiri, tanpa ada seorang pun untuk berbagi.
Karena memang tak akan ada yang mau mendengar dan mengerti..
Yaaaa....
hidup memang terkadang terasa begitu kejam,
bak episode sinetron yang tak akan bernah berakhir,
semua bergulir tiada terhenti, saling berhubungan, saling terkait satu dan yang lainnya..
Sandiwara..
sandiwara kehidupan yang akan selalu abadi,
mengisi setiap jiwa-jiwa yang lemah..
jalan ceritanya bisa saja berubah,
semua bertumpu pada sang tokoh utama.
Apakan mampu bertahan dan mengatasi semua,
memecahkan setiap persoalan tanpa terkecuali.
atau kah akan menyerah, pasrah pada takdir yang menghampiri..
putus asa, lemas dengan keadaan...
Andai itu terjadi, maka satu hal yang pasti,
cerita akan berakhir tragis penuh ironi,
kebenaran pun akan tersembunyi,
abadi di balik kabut tebal yang akan selalu menyelimuti..
Sungguh hidup adalah ironi....

Rabu, 06 Juni 2012

CERPENKU

HANYA SEBUAH HARAPAN

Ketika sebuah masalah datang, tak semua orang mampu menyelesaikan masahnya dengan sempurna. Hanya orang-orang yang memahami arti kehidupan saja yang mampu menyelesaikanya. Ketika sebuah ujian adtang kepada seseorang, saat itulah keimanannya diuji. Mampu atau tidaknya ia menghadapinya tergantung pada seberapa besar keimanannya kepada Tuhannya.
Dalam cerita ini yang ada ialah sebuah perjuangan gadis kecil dalam menjalani kehidupannya yang penuh dengan liku-liku. Bahkan dalam usianya yang masih sangat belia ini dia harus mengahadapi kenyataan bahwa dirinya hidup sebatang kara tanpa adanya kasih sayang seorang ibu atau pun ayah.
Ya, kedua orang tuanya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih kecil dulu. Saat itu bencana tengah menghantam desanya. Desa yang berada jauh dari keramaian, berada di tepi hutan nan sepi, sunyi. Perusakan hutan membuat penghuninya marah dan memporak porandakan apa yang ia temui. Saat itu terjadi ia masih berusia 16 bulan. Sedang dalam masa pertumbuhan.
Pagi itu, semua penduduk desa tengah melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mencangkul di ladang samping rumah, ada yang sedang memberi makan ternak unggasnya, dan aktifitas-aktifitas keseharian yang lain. Tak diketahui dari man datangnya, tiba-tiba segerombolan hewan hutan menerjang desa kecil itu tanpa ampun. Gajah-gajah yang besar dan liar membabi buta menghancurkan setia sudut desa. Ular-ular merayap menggerayangi setiap ruas jalan tanah yang ada menuju ke rumah penduduk dan menyerang penghuninya tanpa pandang bulu. Di sudut desa yang lain, tampak segerombolan singa dan macan mengamuk membuat seisi desa menjadi kacau dan dihantui kepanikan dan ketakutan.
Ketika itu, sang gadis kecil sedang bermain-main di halaman belakang sendirian. Sementara sang ibu tengah memasak di dekatnya sembari mengawasi sang anak, ayahnya tengah berkebun di samping rumah. Mendengar kekacauan yang terjadi sang ibu lantas panik dan ketakutan dan serta merta menggendong sang anak masuk rumah. Namun naas sang singa mampu menembus pintu dan membunuh sang ibu. Sementara sang gadis kecil hanya menangis ketakutan.
Dalam sekejap desa telah luluh lantah dan tak ada seorng pun yang masih hidup. Tak berapa lama setelah kejadian itu datang seorang pemburu yang tenagh melintas. Melihat sang gadis kecil sendirian merana melihat saudara se desanya telah pergi, tak tega pula dia. Lantas dibawanya sang agdis kecil ke gubugnya dikota. Di sana sang gadis dirawatnya bak putri sendiri. Hingga kini telah tumbuh menjadi gadis kecil yang tearmat manis.
Selama hidupnya di kota, ia tahu bahwa dirinya telah sebatang kara. Namun perjuangan hidupnya tiadalah mudah. Banyak hal yang ia hadapi dan temui di kota. Bapak angkatnya bukanlah seorang yang kaya, mak ia harus bekarja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bapak angkatnya. Terlebih saat bapaknya mulai renta dan telah sakit-sakitan. Ia berjuang sendiri untuk mrnghidupi dirinya dan bapaknya.
Mungkin diantara kita hal itu adalah hal yang sangat luar biasa, namun bagi si gadis kecil ituadalah kesehariannya yang selalu ia lalui. Terkadang ada rasa iri pada teman2 sebayanya yang ia  temui di jalan ketika bekerja. Ia ingin seperti mereka yang bisa sekolah, belajar dan bermain. Namun apa daya. Angan tinggallah angan. Yang bisa ia lakukan hanya bermipi dan membayangkan itu akan terjadi pada dirinya.
Namun takdir berkata lain. Ia harus hidup seperti ini, menjadi gadis manis yang hanya bisa bermimpi. Yang mampu ia lakukan hanyalah berdoa agar suatu sat nanti ia akan mampu mewujudkan mimpinya..

Minggu, 22 April 2012

TRAVELLING FOREVER


Hari ini (Minggu, 11 Maret 2012) aku jalan-jalan sama teman-teman. Tujuannya adalah Kota Solo. Ya, kota yang berada di sebelah timur Yogyakarta. Kami bermaksud untuk mengunjungi Kraton Kasunanan Solo atau lebih dikenal dengan Kraton Surakarta. Setelah dari sana kami berencana akan mampir ke pasar Klewer yang tak jauh dari kraton Kasunanan Surakarta.
Aku dan keempat temanku (Kiki, Neni, Lutfi dan Fita) dengan mengendarai sepeda motor kami bertekad sampai ke Kota Solo. Aku berboncengan dengan Neni, Kiki dengan Fita, sementara Lutfi sendirian. Namun hal itu tak menyrutkan niat Lutfi untuk menaklukkan jalanan menuju Kota Solo. Kami dapat dibilang termasuk nekat sebab belum begitu mengenal Kota Batik itu. Tak ada satu pun diantara kami yang pernah ke Solo kecuali Neni. Aku sendiri hanya pernah lewat saja. Jadi dapat dibilang kami tak mengenal Solo. Hanya dengan berbekal peta yang diperoleh dari searching di internet dan pengetahuan geografi serta modal nekat kami pun berangkat.
Kami memulai perjalanan dari Jogja sekitar pukul 08.30, dengan menyusuri Jl. Yogya-Solo lurus ke arah timur hingga sampai ke Obyek wisata Prambanan masih ke timur lagi. Begitu panjang jalan yang kami lewati. Aku duduk di jok motor belakang dan sesekali melihat sekeliling menikmati pemandangan Kota Jogja yang sudah panas hampir mirip Jakarta meski tak sampai separah di Jakarta yang banyak keamcetan di sana-sini. Ketika memasuki daerah Klaten, tepatnya di dekat RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro salah satu motor kami ada yang bocor bannya yaitu motor Kiki. Jadi terpaksa kami menunda perjalanan sejenak untuk menambalkan ban motor tersebut agar dapat dikendarai lagi. Beruntung ada bengkel tambal ban yang bersedia menambalkan ban motor Kiki. Sembari menunggu, kami beristirahat sejenak sambil bercanda dan sedikit narsis di tempat tambal ban. Maklum, namanya juga ABABIL alias Anak ABG baru labil, hehehe.. oups... ketahuan deh.. J
Ini ni, hasil jepretan di bengkel...
    
Dan ini ekspresi kiki pas motor e bocor.. hehe...
  

Setelah beberapa saat  menunggu ahirnya selesai sudah acara tambal menambalnya lalu kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Dari RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro kami belok kanan menuju jalan yang arahnya Solo. Kami telusuri satu demi satu jalan, setapak demi setapak jalan raya, menyeberangi rel kereta api yang jika ada kereata lewat suaranya sangat bising sekali. Hingga akhirnya sampailah kami di Kota Batik yang selama ini kami impikan untuk mengunjunginya dengan motor. [Hahahahaa bahagianya.. J] Kami lalu memutuskan untuk masuk ke kraton terlebih dahulu dan kemudian masuk ke Pasar Klewer.
Setelah muter-muter gak jelas dan sempat nyasar juga untuk mencari jalan menuju Kraton Solo, akhirnya samailah kami di Kraton kasunanan Solo. Perjuangan untuk menemukan Kraton Solo ini adalah dengan mengelilingi alun-alun yang ada di sebelah utara dari Kraton tersebut. Beberapa kali kami melawati jalan yang sama hingga ada salah satu dari kami yang tercecer yaitu Kiki dan Fita. Namun akhirnya kami bertemu kembali dan sampai juga di Kraton.
Sebelum masuk kraton kami sempat bertanya kepada pedagang disekitar kraton untuk sekedar memastikan bahwa jalan kami benar. Lalu kami membeli karcis masuk ke kraton sebesar Rp 10.000,- sudah termasuk karcis masuk museum kratonnya. Setelah itu kami masuk ke obyek wisata Kraton kasunanan Solo. Namun waktu telah menunjukkan pukul 12.25 yang berarti telah masuk waktu Dzuhur. Aku, Kiki, dan Neni memutuskan untuk shalat terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelajahan. Lagi pula setelah kami bertanya kepada penjaga kraton, objek ini akan tutup dalam waktu 2 jam lagi. itu berarti masih ada waktu unuk shalat terlebih dahulu tanpa takut kehilangan waktu untuk menjelajahi kraton. Sementara aku dan yang lainnya shalat, Lutfi dan Fita yang sedang halangan melanjutkan penjelajahan di dalam kraton.
Aku, Kiki, dan neni shalat di luar kompleks kraton namun tidak begitu jauh. Hanya sekitar 100 meteran dari kraton. Setelah melakukan shalat dan doa seperlunya, kami segera kembali ke kraton dimana Lutfi dan Fita sudah menunggu. Di perjalanan menuju kraton, kami sedikit berpose di pinggir jalan. [ Hehe ababil e kumat. J ]
Oya, aku jadi teringat kejadian ketika aku dan teman-teman baru tiba di kraton. Pada saat itu, kami bar saja sampai dan langsung menuju ke toilet. Hla, ketika aku sedang duduk di kursi tunggu depan toilet bersama Lutfi, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang meangaku berasal dari Blitar sedang protes kepada penjaga Kraton kareana tidak nyaman dengan keadaan toilet disana yang menurut ibu itu sangat tidak pantas dan tidak patut. Ibu itu bilang, toilet disana sangat kotor, dan memberikan saran untuk segera membersihkannya. Melihat banyak wisatawan yang datang kesana baik lokal maupun manca negara. Jika toiletnya kotor seperti itu akan menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung. Kurang lebih begitu komentar dari ibu itu.
Bapak penjaga kraton ya tidak bisa bilang apa-apa, mungkin malu dan malah menyalahkan petugaas kebersihan disana yang saat itu memang orangnya tidak ada. Entah memang ada atau hanya sebagai pengalihan atas ras malunya atau bagaimana aku tidak tahu dan tidak mau ambil pusing soal itu. Namun, aku sangat mendukung pernyataan ibu itu tadi. Sungguh komentar dan reaksi yang patut diacungi jempol serta ditiru. Sebab saat ini orang-orang yang mau perduli terhadap lingkungan sekitar seperti itu sudah sulit sekali ditemui.
Kembali ke cerita sesungguhnya, setelah selesai sholat aku, Kiki, dan Neni segera kembali masuk kedalam kraton dan menemui Lutfi juga Fita yang sedang asik duduk di teras kraton. Belakangan aku tahu, ternyata mereka tengah asik menyantap arem-arem yang dibawa Fita dari Jogja. Setelah itu kami mulai memasuki wilayah pelataran Kraton Surakarta ini. Namun alangkah terkejutnya kami melihat papan peringatan yang berbunyi bahwa setiap pengunjung yang hendak memasuki are Kraton HARUS / WAJIB melepas alas kaki kecuali jika memakai sepatu. pada saat itu aku dan Lutfi hanya memakai sandal/sepatu sandal sementara yang lainnya memakai sepatu. Alhasil, aku dan Lutfi harus merelakan sendal dan sepatu sandal kami ditinggal di luar area demi mematuhi aturan.
Kemudian kami memasuki area kraton dan setelah sampai di dalam kami mengalami sedikit kekecewaan sebab akses pengunjung sangat terbatas. Pasalnya, disana banyak terdapat papan peringatan yang melarang pengunung untuk menyentuh benda-benda di kraton misal; patung, dikarang duduk di teras pendopo kraton; dilarang mengakses area tertentu dari pelataran kraton; dilarang bawa makanan; dll yang menurut kami sangat mengganggu kenyamanan pengunjung. Di sana akses pengunjung sangatlah terbatas dan banyak pula situs-situs pelengkap seperti patung dan gerobag andong yang terbengkalai karena rusak tidak terawat. Selain itu, banyak pula hisan-hiasan dinding yang di balut kain sehingga mengurangi keindahan kraton itu sendiri. Namun, di sini kami bisa memakluminya. Kami percaya pasti semua itu ada alasannya, mungkin kareana sudah adatnya atau peraturannya begitu. Tapi jika boleh memberi saran, tolong aset-aset budaya Indonesia yang masih  tersisa dijaga, dirawat dan dilestarikan agar dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik yang lokal maupun mancanegara.
Akan tetapi, dibalik kekecewaan itu kami merasa sedikit terhibur karena ada pengunjung balita yang sangat lucu bagi kami dan merupakan pemandangan yang cukup lucu. Seorang anak balita kira-kira berusia 3 tahunan yang sedanga bermain dengan pakdhenya. Menurutku anak itu mirip Brandon karena suara dan gaya rambutnya yang mirip Brandon. Selain itu, ada satu hal lagi yang lucu yaitu kata-kata Lutfi yang menyatakan bahwa dia saat masuk kraton terasa “ditelanjangi”. Tapi jangan berfikir negatif dulu, ditelanjangi disini adalah Lutfi yang tidak memakai alas kaki sehingga jadi telanjang kaki. Begituu...
Ini dia gambarnya..... :D


Setelah beberapa lama kami puas melihat-lihat kraton, kami pun berpindah ke Museum Kratonnya. Pada rute pertama tidak ada hal yang berarti yang kami alami. Seperti museum-museum pada umumnya, Museum Kraton in menyimpan berbagai benda-benda peninggalan sejarah diantaranya ada berbagai macam jenis wayang, artefak singgahsana raja, tempat tidur raja, alat makan, alat berburu, dan kelengkapan-kelengkapan lainnya pada masa keraaan dahulu. Tak lupa disana kami berfoto-foto, bernarsis-narsis ria. Setelah puas kami pindah ke sisi lain dari Museum ini. Disana kami melihat berbagai macam bentuk kendaraan zaman dahulu seperti andong, dokar dan lainnya. Disini pula kami mengalami hal yang sangat mengagetkan. Kenapa mengagetkan?? Mau tau???? Kasih tau gak ya??? Hehe..
Jadi begini, ketika lagi poto-poto ada bapak-bapak yang menawari kita poto. Aku dan temen-temen saling pandang lalu tiba-tiba salah satu dari kami -Kiki- ditarik sama bapak-bapak penjaga disana. Alhasil dia kaget dan terpaksa mengikuti bapak-bapak itu. Lalu kami pun tidak mungkin meninggalkannya sendiri akhirnya kami mengikuti dan gak tau kenapa, bapak-bapak tadi menyembah kendaraan yang ada disana. Dan memberikan kalung warna kuning kepada dua orang diantara kami. Mungkin itu sebagai syarat, dan kemudian poto-poto disana dimulai. Dan,,, ini dia hasilnya...


           Setelah itu kami melanjutkan penjelajahan, hingga tak terasa waktu sudah beranjak sore,, lalu kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan perut tersa lapar dan sudah tidak dapat ditahan lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung makan. Karena kami tidak begitu mengenal daerah sana maka, dalam pencarian ini ya seketemunya. Hingga akhirnya ditemukanlah sebuah warung makan sederhana namun terjamin di daerah yang agak tersembunyi dari jalan raya... Begini ni,, suasana makan sore kita waktu itu,,, hehe.. 

            Setelah merasa kenyang kami memutuskan pulang ke Jogja. Selama perjalanan pulang, sempat kehijanan juga namun tak masalah sebab sudah sedia payung sebelum hujan. Hehe. Dan sekitar jam enam sorean menjelang magrib kami memasuki wilayah administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Begitlah perjalan kami hari itu.. kapan-kapan kita jalan-jalan lagi yah kawan,, nanti bagi yang mau ikut boleh deh.. hehe.. SALAM TRAVLLING FOREVER..!!! ^^

Jumat, 20 April 2012

SCIENCE TRIP


MAKAM SEWU
A.    SITUS PENINGGALAN
Makam sewu merupakan sebuah kompleks pemakaman dimana Raden Trenggono atau lebih dikenal dengan Mbah Bodho (Panembahan Bodho) dimakamkan. Di kompleks pemakaman ini, selain terdapat makam Panembahan Bodho juga terdapat makam istri dan cucu-cucunya serta pengikutnya.
B.     LETAK
Komplek pemakaman yang terletak di Dusun Gesikan, Kalurahan Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (sekitar 15 km dari kota Yogyakarta) ini lebih dikenal dengan nama Kompleks Makam Sewu. Konon menurut juru kunci di sana nama itu didasarkan pada pengkiut Panembahan Bodho yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
Kiai Setasedewa adalah salah satu pengikut Penambahan Bodho yang sangat setia. Ia juga dimakamkan di Makam Sewu ini. Letakkannya berada tepat di depan atau di sebelah selatan batu nisan Panembahan Bodho. Makam Panembahan Bohdo sendiri memiliki panjang batu nisan 192 cm, lebar 49 cm, tinggi 60 cm, tinggi jirat 50 cm, lebar jirat 25 cm, dan tebal 8 cm. Makam Panembahan Bodho ini telah diberi cungkup dan berlantai keramik warna putih. Batu Nisan Panembahan Bodho selalu ditutup dengan kelambu berwarna putih.
C.     SILSILAH
Panembahan Bodho pada masa kecilnya mempunyai nama Raden Trenggana. Ia adalah putra Raden Timbal atau Raden Kusen. Raden Kusen (Raden Husein) sendiri merupakan putera dari Raden Damar (adipati di Palembang) dengan seorang istri bernama Dewi Dwarawati. Dewi Dwarawati merupakan putri triman 'pemberian' dari Prabu Brawijaya kepada Raden Damar. Putri triman ini ketika diberikan kepada Raden Damar masih dalam keadaan mengandung. Bayi dalam kandungan Dewi Dwarawati ini kelak lahir di Palembang dan diberi nama Raden Kasan (Hasan) yang kelak lebih terkenal dengan nama Raden Patah. Jadi, Raden Hasan dan Raden Husein merupakan saudara tiri (satu ibu lain ayah).
Raden Damar sendiri menurut buku Sejarahe Panembahan Bodho (R.Trenggono) ing Makam Sewu, tanpa tahun dan nama penerbit, diterbitkan di Pijenan, Pandak, Bantul, Yogyakarta, merupakan putera Prabu Brawijaya dengan Dewi Dilah. Dengan demikian, Raden Trenggono memiliki hubungan darah dengan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit), yaitu sebagai cicitnya.
Raden Timbal/Raden Kusen (Husein) adalah putra dari Raden Damar dengan Dewi Dwarawati yang terkenal juga dengan nama Dara Petak/Putri Tiongkok. Raden Timbal ini kelak mengabdikan diri ke Majapahit dan mendapat kedudukan sebagai pemimpin prajurit serta mendapatkan gelar Adipati Pecattanda di Terung. Oleh karena itu, ia juga dikenal dengan nama Adipati Terung.
Adipati Terung inilah yang kelak menurunkan putra bernama Raden Trenggana (yang kelak dicalonkan menggantikan kedudukan Adipati Terung II menjadi Adipati Terung III). Dalam buku di atas disebutkan bahwa Adipati Terung II adalah seorang putri anak dari Adipati Terung I. Barangkali Adipati Terung II adalah menantu Adipati Terung I. Pada saat Raden Trenggana ini dewasa, di Kerajaan Demak sedang terjadi perebutan kekuasaan. Raden Trenggana tidak mau terlibat dalam perselisihan tersebut. Hal ini berlanjut sampai pada masa pemerintahan Pajang (Sultan Hadiwijaya).
D.    MASA KEJAYAAN
Pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya ini Raden Trenggana dimintai tolong untuk membantu Pajang dalam rangka menegakkan superioritas Pajang, tetapi Raden Trenggana tidak mau karena ia selalu ingat akan sumpah kakeknya untuk tidak usah melibatkan diri dalam pertikaian antarpenguasa (adipati/raja). Bujukan-bujukan yang dilakukan oleh pihak Kasultanan Pajang terhadap Raden Trenggana ini tidak membawa hasil. Setiap kali ia dibujuk untuk membantu, ia selalu mengatakan bahwa dirinya adalah wong bodho 'orang Bodhoh’ yang tidak tahu apa-apa. Pada saat ia dimintai tolong oleh Raden Sutawijaya pun ia tidak bersedia. Oleh karena selalu mengatakan dirinya sebagai wong bodho, maka lama-kelamaan ia terkenal dengan sebutan Kyai Bodho.
Pada usia 40 tahun Raden Trenggana diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk mengabdi/berguru kepada Ki Ageng Kedupayung di Temanggung. Di sana ia dinikahkan dengan anak Ki Ageng Kedupayung dan menurunkan dua orang putra yang bernama Raden Cakrawesi dan Raden Surasekti. Pada usia 50 tahun Raden Trenggana diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam. Dari Temanggung ini ia membawa salah seorang putranya yang bernama Raden Cakrawesi. Ada pun tempat yang digunakan untuk menyebarkan agama tersebut adalah Desa Kadek (termasuk dalam Kapanewon/Kecamatan Pandak, Bantul). Setelah beberapa waktu berada di Desa Kadek, ia dikawinkan dengan salah seorang anak Sunan Kalijaga yang bernama Nyai Brintik.
Kelak Kyai Bodho ini setelah peristiwa Mangir-Senapati, diberi tempat di alun-alun Pasar Gede/Kotagede. Tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Kampung Bodhon. Di tempat ini ia diangkat menjadi panembahan. Oleh karena itu, Raden Trenggana ini kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Bodho.
E.     PERAYAAN NYADRAN MAKAM SEWU
Setiap tahun, di tempat ini selalu digelar Tradisi Nyadran dengan waktu pelaksanaannya adalah setelah tanggal 20 bulan Ruwah penanggalan Jawa. Upacara tersebut dilaksanakan sebanyak tiga kali yaitu, upacara pertama dilaksanakan pada hari Minggu Pahing dimulai pukul 20.30 WIB di Los makam Sewu, kedua pada hari Senin Pon pukul 08.00 WIB di dalam cungkup Panembahan Bodo, dan terakhir pada hari Senin Pon siang pukul 14.00 WIB yang merupakan puncak acara Sadranan.
Senin Pon ini dipilih sebagai puncak upacara karena merupakan hari wafatnya Panembahan Bodo. Peserta upacara bukan hanya diikuti oleh warga Wijirejo saja tetapi juga masyarakat luar Wijirejo bahkan dari luar kota. Pada upacara ini dimulai dengan mengumandangkan ayat-ayat suci Al Qur’an, tahlilan, kenduri, tabur bunga dan terakhir pemotongan tumpeng yang kemudian dibagikan kepada para pengunjung.
Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Wijirejo sebagai tanda penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal terutama kepada Panembahan Bodho dan mendoakan agar dosa-dosanya diampuni Tuhan, disamping itu agar yang ditinggalkan selalu mendapat keselamatan, murah rejeki dan sandang pangan. Panembahan Bodho adalah keturunan bangsawan Majapahit dan merupakan cicit Prabu Brawijaya V yang oleh masyarakat dianggap sebagai cikal bakal mereka sehingga sangat dihormati. Panembahan Bodho juga merupakan salah satu tokoh penyebar Agama Islam, murid dari Sunan Kalijaga.
Dalam upacara tradisi ini selalu menggunakan sesaji yang beraneka ragam. Sesaji-sesaji ini memiliki arti serta makna tersendiri. Adapun makna dari sesaji-sesaji yang digunakan dalam Nyadran makam Sewu, adalah :
1.      Tumpeng, terbuat dari nasi yang dibentuk lancip dibagian atasnya. Melambangkan suatu permintaan dan harapan agar setiap doa yang dipanjatkan dan permintaan ampunan dapat dikabulkan Tuhan  yang telah menciptakan segala sesuatu.
2.      Nasi Uduk atau disebut juga Nasi Rosul, terbuat dari nasi yang dicampur santan, garam dan daun salam. Melambangkan permohonan keselamatan untuk Rosulullah, istri, sahabat dan untuk semua hadirin yang hadir pada saat itu.
3.      Ingkung Ayam, adalah ayam utuh yang direbus dengan bumbu bawang merah, bawang putih, laos, jahe, dan garam. Melambangkan manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika masih bayi manusia merupakan makhluk yang suci. Ingkung juga melambangkan tanda kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa yang apabila sudah berkehendak tidak dapat dicegah lagi.
4.      Ketan, kolak , apem.
a.       Ketan             : dari kata Khotan, yang berarti kesalahan
b.      Kolak : dari kata Qola, tang berarti perkataan
c.       Apem             : dari kata Aqowam, yang memiliki arti maaf atau ampunan.
Sehingga : ketan, Kolak, apem, memiliki arti bahwa jika manusia memiliki kesalahan baik dari perkataan maupun tindakan bersegearalah meminta maaf.
5.    Jajan pasar yaitu makanan yang beraneka macam dari pasar. Melambangkan rasa syukur kepada Allah Swt Yang Maha Pemurah, yang telah memberikan berkah bumi yang subur makmur sehingga dapat menghasilkan panen yang melimpah serta beraneka ragam.
6.    Bunga mawar, melati, dan kenanga. Melambangkan doa yang dibaca dengan hati yang menunjukkan ketulusan dan kesucian.
7.    Pisang raja, menunjukkan harapan dimana suatu hari keluarga akan mengalami keberuntungan dan kemuliaan seperti seorang raja.

DAFTAR PUSTAKA
http://kaumanwijirejo.blogspot.com/2010_07_01_archive.html diunduh pada tanggal 27 Februari 2012 pukul 11.47 Wib
http://bantulkab.go.id/berita/280.html diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.30
http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=32&kota=461&id=73 diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.40
http://bantulkab.go.id/kecamatan/Pajangan.html diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.55