Minggu, 22 April 2012

TRAVELLING FOREVER


Hari ini (Minggu, 11 Maret 2012) aku jalan-jalan sama teman-teman. Tujuannya adalah Kota Solo. Ya, kota yang berada di sebelah timur Yogyakarta. Kami bermaksud untuk mengunjungi Kraton Kasunanan Solo atau lebih dikenal dengan Kraton Surakarta. Setelah dari sana kami berencana akan mampir ke pasar Klewer yang tak jauh dari kraton Kasunanan Surakarta.
Aku dan keempat temanku (Kiki, Neni, Lutfi dan Fita) dengan mengendarai sepeda motor kami bertekad sampai ke Kota Solo. Aku berboncengan dengan Neni, Kiki dengan Fita, sementara Lutfi sendirian. Namun hal itu tak menyrutkan niat Lutfi untuk menaklukkan jalanan menuju Kota Solo. Kami dapat dibilang termasuk nekat sebab belum begitu mengenal Kota Batik itu. Tak ada satu pun diantara kami yang pernah ke Solo kecuali Neni. Aku sendiri hanya pernah lewat saja. Jadi dapat dibilang kami tak mengenal Solo. Hanya dengan berbekal peta yang diperoleh dari searching di internet dan pengetahuan geografi serta modal nekat kami pun berangkat.
Kami memulai perjalanan dari Jogja sekitar pukul 08.30, dengan menyusuri Jl. Yogya-Solo lurus ke arah timur hingga sampai ke Obyek wisata Prambanan masih ke timur lagi. Begitu panjang jalan yang kami lewati. Aku duduk di jok motor belakang dan sesekali melihat sekeliling menikmati pemandangan Kota Jogja yang sudah panas hampir mirip Jakarta meski tak sampai separah di Jakarta yang banyak keamcetan di sana-sini. Ketika memasuki daerah Klaten, tepatnya di dekat RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro salah satu motor kami ada yang bocor bannya yaitu motor Kiki. Jadi terpaksa kami menunda perjalanan sejenak untuk menambalkan ban motor tersebut agar dapat dikendarai lagi. Beruntung ada bengkel tambal ban yang bersedia menambalkan ban motor Kiki. Sembari menunggu, kami beristirahat sejenak sambil bercanda dan sedikit narsis di tempat tambal ban. Maklum, namanya juga ABABIL alias Anak ABG baru labil, hehehe.. oups... ketahuan deh.. J
Ini ni, hasil jepretan di bengkel...
    
Dan ini ekspresi kiki pas motor e bocor.. hehe...
  

Setelah beberapa saat  menunggu ahirnya selesai sudah acara tambal menambalnya lalu kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Dari RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro kami belok kanan menuju jalan yang arahnya Solo. Kami telusuri satu demi satu jalan, setapak demi setapak jalan raya, menyeberangi rel kereta api yang jika ada kereata lewat suaranya sangat bising sekali. Hingga akhirnya sampailah kami di Kota Batik yang selama ini kami impikan untuk mengunjunginya dengan motor. [Hahahahaa bahagianya.. J] Kami lalu memutuskan untuk masuk ke kraton terlebih dahulu dan kemudian masuk ke Pasar Klewer.
Setelah muter-muter gak jelas dan sempat nyasar juga untuk mencari jalan menuju Kraton Solo, akhirnya samailah kami di Kraton kasunanan Solo. Perjuangan untuk menemukan Kraton Solo ini adalah dengan mengelilingi alun-alun yang ada di sebelah utara dari Kraton tersebut. Beberapa kali kami melawati jalan yang sama hingga ada salah satu dari kami yang tercecer yaitu Kiki dan Fita. Namun akhirnya kami bertemu kembali dan sampai juga di Kraton.
Sebelum masuk kraton kami sempat bertanya kepada pedagang disekitar kraton untuk sekedar memastikan bahwa jalan kami benar. Lalu kami membeli karcis masuk ke kraton sebesar Rp 10.000,- sudah termasuk karcis masuk museum kratonnya. Setelah itu kami masuk ke obyek wisata Kraton kasunanan Solo. Namun waktu telah menunjukkan pukul 12.25 yang berarti telah masuk waktu Dzuhur. Aku, Kiki, dan Neni memutuskan untuk shalat terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelajahan. Lagi pula setelah kami bertanya kepada penjaga kraton, objek ini akan tutup dalam waktu 2 jam lagi. itu berarti masih ada waktu unuk shalat terlebih dahulu tanpa takut kehilangan waktu untuk menjelajahi kraton. Sementara aku dan yang lainnya shalat, Lutfi dan Fita yang sedang halangan melanjutkan penjelajahan di dalam kraton.
Aku, Kiki, dan neni shalat di luar kompleks kraton namun tidak begitu jauh. Hanya sekitar 100 meteran dari kraton. Setelah melakukan shalat dan doa seperlunya, kami segera kembali ke kraton dimana Lutfi dan Fita sudah menunggu. Di perjalanan menuju kraton, kami sedikit berpose di pinggir jalan. [ Hehe ababil e kumat. J ]
Oya, aku jadi teringat kejadian ketika aku dan teman-teman baru tiba di kraton. Pada saat itu, kami bar saja sampai dan langsung menuju ke toilet. Hla, ketika aku sedang duduk di kursi tunggu depan toilet bersama Lutfi, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang meangaku berasal dari Blitar sedang protes kepada penjaga Kraton kareana tidak nyaman dengan keadaan toilet disana yang menurut ibu itu sangat tidak pantas dan tidak patut. Ibu itu bilang, toilet disana sangat kotor, dan memberikan saran untuk segera membersihkannya. Melihat banyak wisatawan yang datang kesana baik lokal maupun manca negara. Jika toiletnya kotor seperti itu akan menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung. Kurang lebih begitu komentar dari ibu itu.
Bapak penjaga kraton ya tidak bisa bilang apa-apa, mungkin malu dan malah menyalahkan petugaas kebersihan disana yang saat itu memang orangnya tidak ada. Entah memang ada atau hanya sebagai pengalihan atas ras malunya atau bagaimana aku tidak tahu dan tidak mau ambil pusing soal itu. Namun, aku sangat mendukung pernyataan ibu itu tadi. Sungguh komentar dan reaksi yang patut diacungi jempol serta ditiru. Sebab saat ini orang-orang yang mau perduli terhadap lingkungan sekitar seperti itu sudah sulit sekali ditemui.
Kembali ke cerita sesungguhnya, setelah selesai sholat aku, Kiki, dan Neni segera kembali masuk kedalam kraton dan menemui Lutfi juga Fita yang sedang asik duduk di teras kraton. Belakangan aku tahu, ternyata mereka tengah asik menyantap arem-arem yang dibawa Fita dari Jogja. Setelah itu kami mulai memasuki wilayah pelataran Kraton Surakarta ini. Namun alangkah terkejutnya kami melihat papan peringatan yang berbunyi bahwa setiap pengunjung yang hendak memasuki are Kraton HARUS / WAJIB melepas alas kaki kecuali jika memakai sepatu. pada saat itu aku dan Lutfi hanya memakai sandal/sepatu sandal sementara yang lainnya memakai sepatu. Alhasil, aku dan Lutfi harus merelakan sendal dan sepatu sandal kami ditinggal di luar area demi mematuhi aturan.
Kemudian kami memasuki area kraton dan setelah sampai di dalam kami mengalami sedikit kekecewaan sebab akses pengunjung sangat terbatas. Pasalnya, disana banyak terdapat papan peringatan yang melarang pengunung untuk menyentuh benda-benda di kraton misal; patung, dikarang duduk di teras pendopo kraton; dilarang mengakses area tertentu dari pelataran kraton; dilarang bawa makanan; dll yang menurut kami sangat mengganggu kenyamanan pengunjung. Di sana akses pengunjung sangatlah terbatas dan banyak pula situs-situs pelengkap seperti patung dan gerobag andong yang terbengkalai karena rusak tidak terawat. Selain itu, banyak pula hisan-hiasan dinding yang di balut kain sehingga mengurangi keindahan kraton itu sendiri. Namun, di sini kami bisa memakluminya. Kami percaya pasti semua itu ada alasannya, mungkin kareana sudah adatnya atau peraturannya begitu. Tapi jika boleh memberi saran, tolong aset-aset budaya Indonesia yang masih  tersisa dijaga, dirawat dan dilestarikan agar dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik yang lokal maupun mancanegara.
Akan tetapi, dibalik kekecewaan itu kami merasa sedikit terhibur karena ada pengunjung balita yang sangat lucu bagi kami dan merupakan pemandangan yang cukup lucu. Seorang anak balita kira-kira berusia 3 tahunan yang sedanga bermain dengan pakdhenya. Menurutku anak itu mirip Brandon karena suara dan gaya rambutnya yang mirip Brandon. Selain itu, ada satu hal lagi yang lucu yaitu kata-kata Lutfi yang menyatakan bahwa dia saat masuk kraton terasa “ditelanjangi”. Tapi jangan berfikir negatif dulu, ditelanjangi disini adalah Lutfi yang tidak memakai alas kaki sehingga jadi telanjang kaki. Begituu...
Ini dia gambarnya..... :D


Setelah beberapa lama kami puas melihat-lihat kraton, kami pun berpindah ke Museum Kratonnya. Pada rute pertama tidak ada hal yang berarti yang kami alami. Seperti museum-museum pada umumnya, Museum Kraton in menyimpan berbagai benda-benda peninggalan sejarah diantaranya ada berbagai macam jenis wayang, artefak singgahsana raja, tempat tidur raja, alat makan, alat berburu, dan kelengkapan-kelengkapan lainnya pada masa keraaan dahulu. Tak lupa disana kami berfoto-foto, bernarsis-narsis ria. Setelah puas kami pindah ke sisi lain dari Museum ini. Disana kami melihat berbagai macam bentuk kendaraan zaman dahulu seperti andong, dokar dan lainnya. Disini pula kami mengalami hal yang sangat mengagetkan. Kenapa mengagetkan?? Mau tau???? Kasih tau gak ya??? Hehe..
Jadi begini, ketika lagi poto-poto ada bapak-bapak yang menawari kita poto. Aku dan temen-temen saling pandang lalu tiba-tiba salah satu dari kami -Kiki- ditarik sama bapak-bapak penjaga disana. Alhasil dia kaget dan terpaksa mengikuti bapak-bapak itu. Lalu kami pun tidak mungkin meninggalkannya sendiri akhirnya kami mengikuti dan gak tau kenapa, bapak-bapak tadi menyembah kendaraan yang ada disana. Dan memberikan kalung warna kuning kepada dua orang diantara kami. Mungkin itu sebagai syarat, dan kemudian poto-poto disana dimulai. Dan,,, ini dia hasilnya...


           Setelah itu kami melanjutkan penjelajahan, hingga tak terasa waktu sudah beranjak sore,, lalu kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan perut tersa lapar dan sudah tidak dapat ditahan lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung makan. Karena kami tidak begitu mengenal daerah sana maka, dalam pencarian ini ya seketemunya. Hingga akhirnya ditemukanlah sebuah warung makan sederhana namun terjamin di daerah yang agak tersembunyi dari jalan raya... Begini ni,, suasana makan sore kita waktu itu,,, hehe.. 

            Setelah merasa kenyang kami memutuskan pulang ke Jogja. Selama perjalanan pulang, sempat kehijanan juga namun tak masalah sebab sudah sedia payung sebelum hujan. Hehe. Dan sekitar jam enam sorean menjelang magrib kami memasuki wilayah administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Begitlah perjalan kami hari itu.. kapan-kapan kita jalan-jalan lagi yah kawan,, nanti bagi yang mau ikut boleh deh.. hehe.. SALAM TRAVLLING FOREVER..!!! ^^

Jumat, 20 April 2012

SCIENCE TRIP


MAKAM SEWU
A.    SITUS PENINGGALAN
Makam sewu merupakan sebuah kompleks pemakaman dimana Raden Trenggono atau lebih dikenal dengan Mbah Bodho (Panembahan Bodho) dimakamkan. Di kompleks pemakaman ini, selain terdapat makam Panembahan Bodho juga terdapat makam istri dan cucu-cucunya serta pengikutnya.
B.     LETAK
Komplek pemakaman yang terletak di Dusun Gesikan, Kalurahan Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (sekitar 15 km dari kota Yogyakarta) ini lebih dikenal dengan nama Kompleks Makam Sewu. Konon menurut juru kunci di sana nama itu didasarkan pada pengkiut Panembahan Bodho yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
Kiai Setasedewa adalah salah satu pengikut Penambahan Bodho yang sangat setia. Ia juga dimakamkan di Makam Sewu ini. Letakkannya berada tepat di depan atau di sebelah selatan batu nisan Panembahan Bodho. Makam Panembahan Bohdo sendiri memiliki panjang batu nisan 192 cm, lebar 49 cm, tinggi 60 cm, tinggi jirat 50 cm, lebar jirat 25 cm, dan tebal 8 cm. Makam Panembahan Bodho ini telah diberi cungkup dan berlantai keramik warna putih. Batu Nisan Panembahan Bodho selalu ditutup dengan kelambu berwarna putih.
C.     SILSILAH
Panembahan Bodho pada masa kecilnya mempunyai nama Raden Trenggana. Ia adalah putra Raden Timbal atau Raden Kusen. Raden Kusen (Raden Husein) sendiri merupakan putera dari Raden Damar (adipati di Palembang) dengan seorang istri bernama Dewi Dwarawati. Dewi Dwarawati merupakan putri triman 'pemberian' dari Prabu Brawijaya kepada Raden Damar. Putri triman ini ketika diberikan kepada Raden Damar masih dalam keadaan mengandung. Bayi dalam kandungan Dewi Dwarawati ini kelak lahir di Palembang dan diberi nama Raden Kasan (Hasan) yang kelak lebih terkenal dengan nama Raden Patah. Jadi, Raden Hasan dan Raden Husein merupakan saudara tiri (satu ibu lain ayah).
Raden Damar sendiri menurut buku Sejarahe Panembahan Bodho (R.Trenggono) ing Makam Sewu, tanpa tahun dan nama penerbit, diterbitkan di Pijenan, Pandak, Bantul, Yogyakarta, merupakan putera Prabu Brawijaya dengan Dewi Dilah. Dengan demikian, Raden Trenggono memiliki hubungan darah dengan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit), yaitu sebagai cicitnya.
Raden Timbal/Raden Kusen (Husein) adalah putra dari Raden Damar dengan Dewi Dwarawati yang terkenal juga dengan nama Dara Petak/Putri Tiongkok. Raden Timbal ini kelak mengabdikan diri ke Majapahit dan mendapat kedudukan sebagai pemimpin prajurit serta mendapatkan gelar Adipati Pecattanda di Terung. Oleh karena itu, ia juga dikenal dengan nama Adipati Terung.
Adipati Terung inilah yang kelak menurunkan putra bernama Raden Trenggana (yang kelak dicalonkan menggantikan kedudukan Adipati Terung II menjadi Adipati Terung III). Dalam buku di atas disebutkan bahwa Adipati Terung II adalah seorang putri anak dari Adipati Terung I. Barangkali Adipati Terung II adalah menantu Adipati Terung I. Pada saat Raden Trenggana ini dewasa, di Kerajaan Demak sedang terjadi perebutan kekuasaan. Raden Trenggana tidak mau terlibat dalam perselisihan tersebut. Hal ini berlanjut sampai pada masa pemerintahan Pajang (Sultan Hadiwijaya).
D.    MASA KEJAYAAN
Pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya ini Raden Trenggana dimintai tolong untuk membantu Pajang dalam rangka menegakkan superioritas Pajang, tetapi Raden Trenggana tidak mau karena ia selalu ingat akan sumpah kakeknya untuk tidak usah melibatkan diri dalam pertikaian antarpenguasa (adipati/raja). Bujukan-bujukan yang dilakukan oleh pihak Kasultanan Pajang terhadap Raden Trenggana ini tidak membawa hasil. Setiap kali ia dibujuk untuk membantu, ia selalu mengatakan bahwa dirinya adalah wong bodho 'orang Bodhoh’ yang tidak tahu apa-apa. Pada saat ia dimintai tolong oleh Raden Sutawijaya pun ia tidak bersedia. Oleh karena selalu mengatakan dirinya sebagai wong bodho, maka lama-kelamaan ia terkenal dengan sebutan Kyai Bodho.
Pada usia 40 tahun Raden Trenggana diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk mengabdi/berguru kepada Ki Ageng Kedupayung di Temanggung. Di sana ia dinikahkan dengan anak Ki Ageng Kedupayung dan menurunkan dua orang putra yang bernama Raden Cakrawesi dan Raden Surasekti. Pada usia 50 tahun Raden Trenggana diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam. Dari Temanggung ini ia membawa salah seorang putranya yang bernama Raden Cakrawesi. Ada pun tempat yang digunakan untuk menyebarkan agama tersebut adalah Desa Kadek (termasuk dalam Kapanewon/Kecamatan Pandak, Bantul). Setelah beberapa waktu berada di Desa Kadek, ia dikawinkan dengan salah seorang anak Sunan Kalijaga yang bernama Nyai Brintik.
Kelak Kyai Bodho ini setelah peristiwa Mangir-Senapati, diberi tempat di alun-alun Pasar Gede/Kotagede. Tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Kampung Bodhon. Di tempat ini ia diangkat menjadi panembahan. Oleh karena itu, Raden Trenggana ini kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Bodho.
E.     PERAYAAN NYADRAN MAKAM SEWU
Setiap tahun, di tempat ini selalu digelar Tradisi Nyadran dengan waktu pelaksanaannya adalah setelah tanggal 20 bulan Ruwah penanggalan Jawa. Upacara tersebut dilaksanakan sebanyak tiga kali yaitu, upacara pertama dilaksanakan pada hari Minggu Pahing dimulai pukul 20.30 WIB di Los makam Sewu, kedua pada hari Senin Pon pukul 08.00 WIB di dalam cungkup Panembahan Bodo, dan terakhir pada hari Senin Pon siang pukul 14.00 WIB yang merupakan puncak acara Sadranan.
Senin Pon ini dipilih sebagai puncak upacara karena merupakan hari wafatnya Panembahan Bodo. Peserta upacara bukan hanya diikuti oleh warga Wijirejo saja tetapi juga masyarakat luar Wijirejo bahkan dari luar kota. Pada upacara ini dimulai dengan mengumandangkan ayat-ayat suci Al Qur’an, tahlilan, kenduri, tabur bunga dan terakhir pemotongan tumpeng yang kemudian dibagikan kepada para pengunjung.
Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Wijirejo sebagai tanda penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal terutama kepada Panembahan Bodho dan mendoakan agar dosa-dosanya diampuni Tuhan, disamping itu agar yang ditinggalkan selalu mendapat keselamatan, murah rejeki dan sandang pangan. Panembahan Bodho adalah keturunan bangsawan Majapahit dan merupakan cicit Prabu Brawijaya V yang oleh masyarakat dianggap sebagai cikal bakal mereka sehingga sangat dihormati. Panembahan Bodho juga merupakan salah satu tokoh penyebar Agama Islam, murid dari Sunan Kalijaga.
Dalam upacara tradisi ini selalu menggunakan sesaji yang beraneka ragam. Sesaji-sesaji ini memiliki arti serta makna tersendiri. Adapun makna dari sesaji-sesaji yang digunakan dalam Nyadran makam Sewu, adalah :
1.      Tumpeng, terbuat dari nasi yang dibentuk lancip dibagian atasnya. Melambangkan suatu permintaan dan harapan agar setiap doa yang dipanjatkan dan permintaan ampunan dapat dikabulkan Tuhan  yang telah menciptakan segala sesuatu.
2.      Nasi Uduk atau disebut juga Nasi Rosul, terbuat dari nasi yang dicampur santan, garam dan daun salam. Melambangkan permohonan keselamatan untuk Rosulullah, istri, sahabat dan untuk semua hadirin yang hadir pada saat itu.
3.      Ingkung Ayam, adalah ayam utuh yang direbus dengan bumbu bawang merah, bawang putih, laos, jahe, dan garam. Melambangkan manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika masih bayi manusia merupakan makhluk yang suci. Ingkung juga melambangkan tanda kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa yang apabila sudah berkehendak tidak dapat dicegah lagi.
4.      Ketan, kolak , apem.
a.       Ketan             : dari kata Khotan, yang berarti kesalahan
b.      Kolak : dari kata Qola, tang berarti perkataan
c.       Apem             : dari kata Aqowam, yang memiliki arti maaf atau ampunan.
Sehingga : ketan, Kolak, apem, memiliki arti bahwa jika manusia memiliki kesalahan baik dari perkataan maupun tindakan bersegearalah meminta maaf.
5.    Jajan pasar yaitu makanan yang beraneka macam dari pasar. Melambangkan rasa syukur kepada Allah Swt Yang Maha Pemurah, yang telah memberikan berkah bumi yang subur makmur sehingga dapat menghasilkan panen yang melimpah serta beraneka ragam.
6.    Bunga mawar, melati, dan kenanga. Melambangkan doa yang dibaca dengan hati yang menunjukkan ketulusan dan kesucian.
7.    Pisang raja, menunjukkan harapan dimana suatu hari keluarga akan mengalami keberuntungan dan kemuliaan seperti seorang raja.

DAFTAR PUSTAKA
http://kaumanwijirejo.blogspot.com/2010_07_01_archive.html diunduh pada tanggal 27 Februari 2012 pukul 11.47 Wib
http://bantulkab.go.id/berita/280.html diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.30
http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=32&kota=461&id=73 diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.40
http://bantulkab.go.id/kecamatan/Pajangan.html diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.55


Minggu, 01 April 2012

TAHUKAH ANDA???


KEMACETAN TRANSPORTASI DI KOTA YOGYAKARTA
Transportasi berasal dari bahasa latin yaitu transportare, trans berarti seberang atau sebelah lain dan portare berarti mengangkut atau membawa. Dari kata tersebut transportasi adalah mengangkut atau membawa sesuatu dari satu tempat ke tempat lain. Kamaluddin (1987: 9 dalam Dony Purnomo: 2011) berpendapat bahwa “tranportasi dapat didefinisikan sebagai usaha mengangkut atau membawa barang dan/atau penumpang dari suatu tempat ketempat lainnya. Sedangkan Menurut Yunus (1994: 73 dalam Dony Purnomo: 2011), “transportasi merupakan proses yang pembahasannya menekankan pada pergerakan penduduk atau barang atau jasa atau pikiran untuk tujuan khusus (dari daerah asal ke daerah tujuan) dalam ruang lingkup geografi dan melibatkan alat-alat, jaringan transportasi, pelayanan transportasi dan sistem transportasi lainnya”. Yang menjadi subyek adalah manusia sebagai pengatur atau pelaku agar pengangkutan berjalan lancar, aman dan nyaman. Lebih lanjut menurut Haryono (2006: 93 dalam Dony Purnomo: 2011) “transportasi atau perangkutan adalah perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan alat pengangkutan, baik yang digerakkan oleh tenaga manusia, hewan (kuda, sapi, kerbau), atau mesin”.
Dari tiga pengertian di atas disimpulkan bahwa konsep transportasi didasarkan pada adanya perjalanan (trip) antara asal (origin) dan tujuan (destination) yang melibatkan sesuatu. Sesuatu ini dapat berupa barang, jasa, maupun manusia. Sedangkan perjalanan adalah pergerakan orang dan barang antara dua tempat kegiatan yang terpisah untuk melakukan kegiatan perorangan atau kelompok dalam masyarakat. Perjalanan dilakukan melalui suatu lintasan tertentu yang menghubungkan asal dan tujuan, menggunakan alat angkut atau kendaraan dengan kecepatan tertentu.
Disetiap pergerakan memiliki zona asal dan zona tujuan, yang mana zona asal sebagai daerah penghasil pegerakan dan zona tujuan adalah sesuatu yang menarik pergerakan sehingga dapat dikatakan bahwa adanya dua pembangkit perjalanan yakni:
1.      Trip Production : jumlah perjalanan yang dihasilkan oleh suatu zona atau lalu lintas yang meninggalkan suatu lokasi.
2.      Trip Attraction : jumlah perjalanan yang ditarik oleh suatu zona atau lalu lintas yang menuju atau tiba ke suatu lokasi (Budiman, 2009: 32 dalam Dony Purnomo: 2011).
Seperti halnya konsep yang lain, transportasi juga memiliki unsur-unsur pokok yang harus dipenuhi agar transportasi dapat terjadi. Ada lima unsur pokok transportasi, yaitu:
a)      Manusia, yang membutuhkan transportasi
b)      Barang, yang diperlukan manusia
c)      Kendaraan, sebagai sarana transportasi
d)     Jalan, sebagai prasarana transportasi
e)      Organisasi, sebagai pengelola transportasi
Pada dasarnya, kelima unsur di atas saling terkait untuk terlaksananya transportasi, yaitu terjaminnya penumpang atau barang yang diangkut akan sampai ke tempat tujuan dalam keadaan baik seperti pada saat awal diangkut. Dalam hal ini perlu diketahui terlebih dulu ciri penumpang dan barang, kondisi sarana dan konstruksi prasarana, serta pelaksanaan transportasi.
Selain unsur, dalam melakukan transportasi hal lain yang dibutuhkan ialah moda sebagai alat untuk mengangkut barang/jasa/manusia ke tempat tujuannya. Adapun moda transportasi terbagi atas tiga jenis moda, yaitu:
a.       Transportasi darat berupa kendaraan bermotor, kereta api, gerobak yang ditarik oleh hewan (kuda, sapi,kerbau), atau manusia. Moda transportasi darat dipilih berdasarkan faktor-faktor:
-          Jenis dan spesifikasi kendaraan
-          Jarak perjalanan
-          Tujuan perjalanan
-          Ketersediaan moda
-          Ukuran kota dan kerapatan permukiman
-          Faktor sosial-ekonomi
b.      Transportasi air (sungai, danau, laut) berupa kapal,tongkang, perahu, rakit.
c.       Transportasi udara seperti pesawat terbang.
Transportasi  dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
a.       Transportasi publik
Transportasi publik adalah seluruh alat transportasi di mana penumpang tidak bepergian menggunakan kendaraannya sendiri. Transportasi publik umumnya termasuk kereta dan bis, namun juga termasuk pelayanan maskapai penerbangan, feri, taxi, dan lain-lain. Transportasi publik merupakan sarana transportasi utama di bumi.
b.      Transportasi Pribadi
Transportasi pribadi adalah seluruh alat transportasi yang dimiliki secara pribadi oleh penumpangnya.
Di Yogyakarta sendiri alat transpotasi yang digunakan ada bermacam-macam, baik merupakan transportasi pribadi maupun transportasi publik. Transportasi pribadi sendiri ada bermacam-macam, mulai dari yang tradisional seperti sepeda hingga yang modern seperti sepeda motor, mobil, bahkan pesawat pribadi. Begitu pula dengan transportasi publiknya juga ada bermacam-macam baik yang tradisional seperti delman, andong, dan becak hingga ke yang modern  seperti bus kota, trans jogja, kereta api, pesawat terbang, dll.
Data jumlah pemilik kendaraan bermotor yang tercatat di Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Kota Yogyakarta, yaitu 5.579 pemilik mobil penumpang, 77 pemilik mobil bus, 1.224 pemilik mobil barang dan 94.298 pemilik sepeda motor. Jadi total populasi dalam penelitian iniadalah 101.186 pemilik kendaraan bermotor (Sri Prasetiani: 44, 2010).
Berdasarkan data diatas dapat kita ketahui bahwa dari semua transportasi yang ada di Kota Yogyakarta yang mendominasi adalah kendaraan pribadi terutama sepeda motor. Pertambahan sepeda motor di Yogyakarta lebih pesat dibandingkan kendaraan roda empat. Setiap tahun, jumlah kendaraan roda dua bertambah sekitar 11,8 persen, sementara kendaraan roda empat hanya 6,9 persen. Berdasarkan data Polda DIY, jumlah kendaraan bermotor terbanyak berada di Kota Yogyakarta, yaitu 275.590 unit atau 28,23 persen dari total jumlah kendaraan bermotor (2005).
Padahal, panjang jalan di kota hanya 224,86 kilometer. Tak heran, di sejumlah ruas jalan vital, seperti Jalan Malioboro dan sekitarnya, kerap terjadi kemacetan.4 Dalam lima tahun terakhir, perkembangan kendaraan bermotor di DIY rata-rata 11,9 persen per tahun. Pertambahan kendaraan bermotor baru setiap tahun mencapai 83.761 unit, lebih dari 90 persen di antaranya kendaraan roda dua atau sepeda motor. Sedangkan pertambahan kendaraan roda empat hanya 7.853 unit per tahun (Satria Nugroho : 2008)
Kondisi yang demikian menyebabkan sering terjadi kemacetan di ruas-ruas jalan Kota Yogyakarta terutama pada jam kerja yaitu antara jam 07.00 pagi hingga jam 08.00 pagi. Hal ini terjadi karena semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi sebagai alat transportasi utama dalam melakukan aktifitas sehari-harinya. Keadaan inilah yang menyebabkan sering terjadi kemacetan yang panjang pada jam-jam tersebut. Pasalnya jam masuk sekolah, kuliah dan kerja masyarakat memiliki waktu yang hampir bersamaan.
Adapun lokasi yang sering terjadi kemacetan biasanya berada di sekitar tempat-tempat yang banyak dikunjungi orang. Di Kota yogyakarta sendiri yang merupakan tempat-tempat yang sering mengalami kemacetan adalah seperti di depan pasar tradisional, pusat perbelanjaan, serta obyek wisata. Persebaran tempat-tempat yang sering mengalami kemacetan di Kota Yogyakarta ialah di perempatan Gondomanan, Jl. Godean, ruas jalan di depan Ambarukmo Plaza, ruas jalan di depan Pasar Demangan. Sementara itu, menurut (Walhi : 1999) beberapa titik yang menjadi lokasi kemacetan di kota Yogyakarta seperti perempatan Magister Manajemen UGM, perempatan Mirota Kampus kearah, belakang hotel Garuda, perempatan tugu, perempatan jalan Magelang.  Pada ruas jalan tersebut kemacetan terjadi terutama ketika memasuki jam keberangkatan anak-anak sekolah, kerja maupun kuliah pada pagi hari dan ketika jam pulang kerja.
Interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek memengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sebagai lawan dari hubungan satu arah pada sebab akibat. Kombinasi dari interaksi-interaksi sederhana dapat menuntun pada suatu fenomena baru yang mengejutkan.
Dalam hubungannya dengan kemacetan di Kota Yogyakarta, interaksi yang terjadi ialah interaksi antara kemacetan itu sendiri dengan faktor geosfer bumi yaitu litosfer, atmosfer, biosfer, hidrosfer dan antroposfer. Jika dilihat dari interaksi dengan litosfer kemacetan di Kota Yogyakarta merupakan dampak dari semakin banyaknya jumlah kendaraan di Kota Yogyakarta yang tidak diimbangi dengan luasan lahan atau perluasan badan jalan yang digunakan sebagai sarana untuk kendaraan-kendaraan itu di jalankan.
Sementara jika diliha dari aspek atmosfernya, kemacetan yang terjadi di Kota Yogyakata mengakibatkan banyaknya polusi udara di Kota ini. Menurut (Walhi : 1999) tingkat pencemaran udara di kota Yogyakarta pun sudah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan dan sektor transportasi merupakan kontributor utama bagi pencemaran udara ini. Pada jam-jam tertentu dibeberapa titik padat kendaraan bermotor tingkat polusinya sudah melampaui ambang batas. Ditempat-tempat tertentu mulai terlihat penurunan kualitas udara, terutama di tempat yang macet.
Bila dilihat dari aspek biologinya, kemacetan ini dapat diatasi dengan penanaman pohon-pohon penyerap karbondioksoda seperti pohon tembesi seperti yang telah di canangkan saat ini. Pohon tembesi di yakini merupakanjenis pohon yang memiliki daya serap terhadap CO2 yang termasuk tinggi sehingga sangat efektif bila digunakan sebagai pohon untuk program jalur hijau di sepanjang jalan yang sering terkena macet. Upaya ini di lakukan selain untuk mengurangi polusi juga dapat dignakan sebagai bahan bakar yang berupa kayu.
Interaksi yang terjadi antara kemaceatan di Kota Yogyakarta dengan hidrosfer ialah air berperan sebagai pengganti cairan tubuh masyarakat ketika menghadapi kemacetan yang berkepanjangan. Ketika seseorang mengalami kemacetan pastilah akan membakar emosi yang mengakibatkan hilangnya sebagian cairan tubuh. Hidrosfer disini berperan sebagai air minim yang diminum oleh masyarakat ketika lelah menghadapi kemacetan.
Selanjutnya bila di lihat dari aspek antroposfernya, kemacetan di Kota Yogyakarta ini dipengaruhi pula oleh kebiasaan atau budaya dari masyarakatnya. Masyarakat saat ini memandang transportasi bukan semata karena kemanfaatannya saja, melainkan lebih kepada prestis atau gengsinya. Hal inilah yang menyebabkan semakin hari jumlah kendaraan pribadi semakin bertambah. Selain itu, Meningkatnya jumlah angkutan umum, mobil pribadi dan sepeda motor di Kota Yogyakarta tidak lepas dari peran dealar sebagai agen pemegang merk yang kemudian menjual kendaran tersebut dan juga melakukan perawatan atau sevice kendaraan bermotor. Banyaknya bank perkreditan yang memberikan syarat yang ringan atau lunak bagi masyarakat yang ingin membeli kendaraan juga mempengaruhi presepsi  masyarakat sehingga tertarik memiliki kendaraan pribadi.
Transportasi diperlukan untuk mengatasi kesenjangan jarak dan komunikasi antara tempat asal dan tempat tujuan. Untuk itu dikembangkan sistem transportasi dan komunikasi, dalam wujud sarana (kendaraan) dan prasarana (jalan). Dari sini timbul jasa angkutan untuk memenuhi kebutuhan perangkutan (transportasi) dari satu tempat ke tempat lain.
 Di sini terlihat, bahwa transportasi dan tata guna lahan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kegiatan transportasi yang diwujudkan dalam bentuk lalu lintas kendaraan, pada dasarnya merupakan kegiatan yang menghubungkan dua lokasi dari tata guna lahan yang mungkin sama atau berbeda. Memindahkan orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain, berarti memindahkannya dari satu tata guna lahan ke tata guna lahan yang lain, yang berarti pula mengubah nilai ekonomi orang atau barang tersebut. salah satu tujuan penting dari perencanaan tata guna lahan atau perencanaan sistem transportasi, adalah menuju kekeseimbangan yang efisien antara potensi tata guna lahan dengan kemampuan transportasi.
Manfaat lain dari transportasi menurut Haryono (2006: 94-95 dalam Dony Purnomo : 2011) meliputi manfaat sosial, ekonomi, politik, dan fisik.
1.       Manfaat Sosial.
Dalam kehidupan sosial/ bermasyarakat ada bentuk hubungan yang bersifat resmi, seperti hubungan antara lembaga pemerintah dengan swasta, maupun hubungan yang bersifat tidak resmi, seperti hubungan keluarga, sahabat, dan sebagainya. Untuk kepentingan hubungan sosial ini, transportasi sangat membantu dalam menyediakan berbagai fasilitas dan kemudahan, seperti:
a)      Pelayanan untuk perorangan maupun kelompok
b)      Pertukaran danpenyampaian informasi
c)      Perjalanan pribadi maupun social
d)     Mempersingkat waktu tempuh antara rumah dan tempat bekerja
e)      Mendukung perluasan kota atau penyebaran penduduk menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil.
2.      Manfaat Ekonomi.
Manusia memanfaatkan sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhannya akan pangan, sandang, dan papan. Sumberdaya alam ini perlu diolah melalui proses produksi untuk menjadi bahan siap pakai yang perlu dipasarkan, di mana terjadi proses tukar menukar antara penjual dan pembeli. Tujuan dari kegiatan ekonomi adalah memenuhi kebutuhan manusia dengan menciptakan manfaat.
Transportasi adalah salah satu jenis kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kebutuhan manusia melalui cara mengubah letak geografi orang maupun barang. Dengan transportasi, bahan baku dibawa ke tempat produksi, dan dengan transportasi pula hasil produksi dibawa ke pasar. Para konsumen datang ke pasar atau tempat-tempat pelayanan yang lain (rumah sakit, pusat rekreasi, pusat perbelanjaan dan seterusnya) dengan menggunakan transportasi.
3.      Manfaat Politik.
Bagi negara kepulauan seperti Indonesia, maka transportasi memegang peranan penting. Beberapa manfaat politik dari transportasi, adalah:
a)      Transportasi menciptakan persatuan nasional yang semakin kuat dengan meniadakan isolasi.
b)      Transportasi mengakibatkan pelayanan kepada masyarakat dapat dikembangkan atau diperluas secara lebih merata pada setiap bagian wilayah negara.
c)      Keamanan negara sangat tergantung pada transportasi yang efisien untuk memudahkan mobilisasi kemampuan dan ketahanan nasional, serta memungkinkan perpindahan pasukan selama masa perang atau untuk menjaga keamanan dalam negeri.
d)     Sistem transportasi yang efisien memungkinkan perpindahan penduduk dari daerah bencana.
4.      Manfaat Fisik.
Transportasi mendukung perkembangan kota dan wilayah sebagai sarana penghubung. Rencana tata guna lahan kota harus didukung secara langsung oleh rencana pola jaringan jalan yang merupakan rincian tata guna lahan yang direncanakan. Pola jaringan jalan yang baik akan mempengaruhi perkembangan kota yang direncanakan sesuai dengan rencana tata guna lahan. Ini berarti transportasi mendukung penuh perkembangan fisik suatu kota atau wilayah.
Jika kondisi ini terus dibiarkan dan tidak diatasi maka bukan tidak mungkin bila Kota Jogjakarta akan seperti Jakarta. Mengingat semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi untuk memudahkan aktivitas sehari-harinya. Selain itu, belum ada upaya pemerintah untuk memperlebar ruas jalan yang ada. Kemudian, tingkat polusi pun akan semakin bertambah bila tak ada penanganan yang serius dari pemerintah sendiri.