Jumat, 20 April 2012

SCIENCE TRIP


MAKAM SEWU
A.    SITUS PENINGGALAN
Makam sewu merupakan sebuah kompleks pemakaman dimana Raden Trenggono atau lebih dikenal dengan Mbah Bodho (Panembahan Bodho) dimakamkan. Di kompleks pemakaman ini, selain terdapat makam Panembahan Bodho juga terdapat makam istri dan cucu-cucunya serta pengikutnya.
B.     LETAK
Komplek pemakaman yang terletak di Dusun Gesikan, Kalurahan Wijirejo, Kecamatan Pandak, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (sekitar 15 km dari kota Yogyakarta) ini lebih dikenal dengan nama Kompleks Makam Sewu. Konon menurut juru kunci di sana nama itu didasarkan pada pengkiut Panembahan Bodho yang jumlahnya mencapai ribuan orang.
Kiai Setasedewa adalah salah satu pengikut Penambahan Bodho yang sangat setia. Ia juga dimakamkan di Makam Sewu ini. Letakkannya berada tepat di depan atau di sebelah selatan batu nisan Panembahan Bodho. Makam Panembahan Bohdo sendiri memiliki panjang batu nisan 192 cm, lebar 49 cm, tinggi 60 cm, tinggi jirat 50 cm, lebar jirat 25 cm, dan tebal 8 cm. Makam Panembahan Bodho ini telah diberi cungkup dan berlantai keramik warna putih. Batu Nisan Panembahan Bodho selalu ditutup dengan kelambu berwarna putih.
C.     SILSILAH
Panembahan Bodho pada masa kecilnya mempunyai nama Raden Trenggana. Ia adalah putra Raden Timbal atau Raden Kusen. Raden Kusen (Raden Husein) sendiri merupakan putera dari Raden Damar (adipati di Palembang) dengan seorang istri bernama Dewi Dwarawati. Dewi Dwarawati merupakan putri triman 'pemberian' dari Prabu Brawijaya kepada Raden Damar. Putri triman ini ketika diberikan kepada Raden Damar masih dalam keadaan mengandung. Bayi dalam kandungan Dewi Dwarawati ini kelak lahir di Palembang dan diberi nama Raden Kasan (Hasan) yang kelak lebih terkenal dengan nama Raden Patah. Jadi, Raden Hasan dan Raden Husein merupakan saudara tiri (satu ibu lain ayah).
Raden Damar sendiri menurut buku Sejarahe Panembahan Bodho (R.Trenggono) ing Makam Sewu, tanpa tahun dan nama penerbit, diterbitkan di Pijenan, Pandak, Bantul, Yogyakarta, merupakan putera Prabu Brawijaya dengan Dewi Dilah. Dengan demikian, Raden Trenggono memiliki hubungan darah dengan Prabu Brawijaya V (Raja Majapahit), yaitu sebagai cicitnya.
Raden Timbal/Raden Kusen (Husein) adalah putra dari Raden Damar dengan Dewi Dwarawati yang terkenal juga dengan nama Dara Petak/Putri Tiongkok. Raden Timbal ini kelak mengabdikan diri ke Majapahit dan mendapat kedudukan sebagai pemimpin prajurit serta mendapatkan gelar Adipati Pecattanda di Terung. Oleh karena itu, ia juga dikenal dengan nama Adipati Terung.
Adipati Terung inilah yang kelak menurunkan putra bernama Raden Trenggana (yang kelak dicalonkan menggantikan kedudukan Adipati Terung II menjadi Adipati Terung III). Dalam buku di atas disebutkan bahwa Adipati Terung II adalah seorang putri anak dari Adipati Terung I. Barangkali Adipati Terung II adalah menantu Adipati Terung I. Pada saat Raden Trenggana ini dewasa, di Kerajaan Demak sedang terjadi perebutan kekuasaan. Raden Trenggana tidak mau terlibat dalam perselisihan tersebut. Hal ini berlanjut sampai pada masa pemerintahan Pajang (Sultan Hadiwijaya).
D.    MASA KEJAYAAN
Pada masa pemerintahan Sultan Hadiwijaya ini Raden Trenggana dimintai tolong untuk membantu Pajang dalam rangka menegakkan superioritas Pajang, tetapi Raden Trenggana tidak mau karena ia selalu ingat akan sumpah kakeknya untuk tidak usah melibatkan diri dalam pertikaian antarpenguasa (adipati/raja). Bujukan-bujukan yang dilakukan oleh pihak Kasultanan Pajang terhadap Raden Trenggana ini tidak membawa hasil. Setiap kali ia dibujuk untuk membantu, ia selalu mengatakan bahwa dirinya adalah wong bodho 'orang Bodhoh’ yang tidak tahu apa-apa. Pada saat ia dimintai tolong oleh Raden Sutawijaya pun ia tidak bersedia. Oleh karena selalu mengatakan dirinya sebagai wong bodho, maka lama-kelamaan ia terkenal dengan sebutan Kyai Bodho.
Pada usia 40 tahun Raden Trenggana diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk mengabdi/berguru kepada Ki Ageng Kedupayung di Temanggung. Di sana ia dinikahkan dengan anak Ki Ageng Kedupayung dan menurunkan dua orang putra yang bernama Raden Cakrawesi dan Raden Surasekti. Pada usia 50 tahun Raden Trenggana diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk menyebarkan agama Islam. Dari Temanggung ini ia membawa salah seorang putranya yang bernama Raden Cakrawesi. Ada pun tempat yang digunakan untuk menyebarkan agama tersebut adalah Desa Kadek (termasuk dalam Kapanewon/Kecamatan Pandak, Bantul). Setelah beberapa waktu berada di Desa Kadek, ia dikawinkan dengan salah seorang anak Sunan Kalijaga yang bernama Nyai Brintik.
Kelak Kyai Bodho ini setelah peristiwa Mangir-Senapati, diberi tempat di alun-alun Pasar Gede/Kotagede. Tempat tersebut kemudian terkenal dengan nama Kampung Bodhon. Di tempat ini ia diangkat menjadi panembahan. Oleh karena itu, Raden Trenggana ini kemudian lebih dikenal dengan nama Panembahan Bodho.
E.     PERAYAAN NYADRAN MAKAM SEWU
Setiap tahun, di tempat ini selalu digelar Tradisi Nyadran dengan waktu pelaksanaannya adalah setelah tanggal 20 bulan Ruwah penanggalan Jawa. Upacara tersebut dilaksanakan sebanyak tiga kali yaitu, upacara pertama dilaksanakan pada hari Minggu Pahing dimulai pukul 20.30 WIB di Los makam Sewu, kedua pada hari Senin Pon pukul 08.00 WIB di dalam cungkup Panembahan Bodo, dan terakhir pada hari Senin Pon siang pukul 14.00 WIB yang merupakan puncak acara Sadranan.
Senin Pon ini dipilih sebagai puncak upacara karena merupakan hari wafatnya Panembahan Bodo. Peserta upacara bukan hanya diikuti oleh warga Wijirejo saja tetapi juga masyarakat luar Wijirejo bahkan dari luar kota. Pada upacara ini dimulai dengan mengumandangkan ayat-ayat suci Al Qur’an, tahlilan, kenduri, tabur bunga dan terakhir pemotongan tumpeng yang kemudian dibagikan kepada para pengunjung.
Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Wijirejo sebagai tanda penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal terutama kepada Panembahan Bodho dan mendoakan agar dosa-dosanya diampuni Tuhan, disamping itu agar yang ditinggalkan selalu mendapat keselamatan, murah rejeki dan sandang pangan. Panembahan Bodho adalah keturunan bangsawan Majapahit dan merupakan cicit Prabu Brawijaya V yang oleh masyarakat dianggap sebagai cikal bakal mereka sehingga sangat dihormati. Panembahan Bodho juga merupakan salah satu tokoh penyebar Agama Islam, murid dari Sunan Kalijaga.
Dalam upacara tradisi ini selalu menggunakan sesaji yang beraneka ragam. Sesaji-sesaji ini memiliki arti serta makna tersendiri. Adapun makna dari sesaji-sesaji yang digunakan dalam Nyadran makam Sewu, adalah :
1.      Tumpeng, terbuat dari nasi yang dibentuk lancip dibagian atasnya. Melambangkan suatu permintaan dan harapan agar setiap doa yang dipanjatkan dan permintaan ampunan dapat dikabulkan Tuhan  yang telah menciptakan segala sesuatu.
2.      Nasi Uduk atau disebut juga Nasi Rosul, terbuat dari nasi yang dicampur santan, garam dan daun salam. Melambangkan permohonan keselamatan untuk Rosulullah, istri, sahabat dan untuk semua hadirin yang hadir pada saat itu.
3.      Ingkung Ayam, adalah ayam utuh yang direbus dengan bumbu bawang merah, bawang putih, laos, jahe, dan garam. Melambangkan manusia adalah makhluk yang lemah. Ketika masih bayi manusia merupakan makhluk yang suci. Ingkung juga melambangkan tanda kepasrahan kepada Yang Maha Kuasa yang apabila sudah berkehendak tidak dapat dicegah lagi.
4.      Ketan, kolak , apem.
a.       Ketan             : dari kata Khotan, yang berarti kesalahan
b.      Kolak : dari kata Qola, tang berarti perkataan
c.       Apem             : dari kata Aqowam, yang memiliki arti maaf atau ampunan.
Sehingga : ketan, Kolak, apem, memiliki arti bahwa jika manusia memiliki kesalahan baik dari perkataan maupun tindakan bersegearalah meminta maaf.
5.    Jajan pasar yaitu makanan yang beraneka macam dari pasar. Melambangkan rasa syukur kepada Allah Swt Yang Maha Pemurah, yang telah memberikan berkah bumi yang subur makmur sehingga dapat menghasilkan panen yang melimpah serta beraneka ragam.
6.    Bunga mawar, melati, dan kenanga. Melambangkan doa yang dibaca dengan hati yang menunjukkan ketulusan dan kesucian.
7.    Pisang raja, menunjukkan harapan dimana suatu hari keluarga akan mengalami keberuntungan dan kemuliaan seperti seorang raja.

DAFTAR PUSTAKA
http://kaumanwijirejo.blogspot.com/2010_07_01_archive.html diunduh pada tanggal 27 Februari 2012 pukul 11.47 Wib
http://bantulkab.go.id/berita/280.html diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.30
http://iannnews.com/ensiklopedia.php?page=budaya&prov=32&kota=461&id=73 diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.40
http://bantulkab.go.id/kecamatan/Pajangan.html diunduh pada tanggal 28 Februari 2012 pukul 13.55


Tidak ada komentar:

Posting Komentar