Minggu, 22 April 2012

TRAVELLING FOREVER


Hari ini (Minggu, 11 Maret 2012) aku jalan-jalan sama teman-teman. Tujuannya adalah Kota Solo. Ya, kota yang berada di sebelah timur Yogyakarta. Kami bermaksud untuk mengunjungi Kraton Kasunanan Solo atau lebih dikenal dengan Kraton Surakarta. Setelah dari sana kami berencana akan mampir ke pasar Klewer yang tak jauh dari kraton Kasunanan Surakarta.
Aku dan keempat temanku (Kiki, Neni, Lutfi dan Fita) dengan mengendarai sepeda motor kami bertekad sampai ke Kota Solo. Aku berboncengan dengan Neni, Kiki dengan Fita, sementara Lutfi sendirian. Namun hal itu tak menyrutkan niat Lutfi untuk menaklukkan jalanan menuju Kota Solo. Kami dapat dibilang termasuk nekat sebab belum begitu mengenal Kota Batik itu. Tak ada satu pun diantara kami yang pernah ke Solo kecuali Neni. Aku sendiri hanya pernah lewat saja. Jadi dapat dibilang kami tak mengenal Solo. Hanya dengan berbekal peta yang diperoleh dari searching di internet dan pengetahuan geografi serta modal nekat kami pun berangkat.
Kami memulai perjalanan dari Jogja sekitar pukul 08.30, dengan menyusuri Jl. Yogya-Solo lurus ke arah timur hingga sampai ke Obyek wisata Prambanan masih ke timur lagi. Begitu panjang jalan yang kami lewati. Aku duduk di jok motor belakang dan sesekali melihat sekeliling menikmati pemandangan Kota Jogja yang sudah panas hampir mirip Jakarta meski tak sampai separah di Jakarta yang banyak keamcetan di sana-sini. Ketika memasuki daerah Klaten, tepatnya di dekat RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro salah satu motor kami ada yang bocor bannya yaitu motor Kiki. Jadi terpaksa kami menunda perjalanan sejenak untuk menambalkan ban motor tersebut agar dapat dikendarai lagi. Beruntung ada bengkel tambal ban yang bersedia menambalkan ban motor Kiki. Sembari menunggu, kami beristirahat sejenak sambil bercanda dan sedikit narsis di tempat tambal ban. Maklum, namanya juga ABABIL alias Anak ABG baru labil, hehehe.. oups... ketahuan deh.. J
Ini ni, hasil jepretan di bengkel...
    
Dan ini ekspresi kiki pas motor e bocor.. hehe...
  

Setelah beberapa saat  menunggu ahirnya selesai sudah acara tambal menambalnya lalu kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Dari RSUP Dr. Soepardji Tirtonegoro kami belok kanan menuju jalan yang arahnya Solo. Kami telusuri satu demi satu jalan, setapak demi setapak jalan raya, menyeberangi rel kereta api yang jika ada kereata lewat suaranya sangat bising sekali. Hingga akhirnya sampailah kami di Kota Batik yang selama ini kami impikan untuk mengunjunginya dengan motor. [Hahahahaa bahagianya.. J] Kami lalu memutuskan untuk masuk ke kraton terlebih dahulu dan kemudian masuk ke Pasar Klewer.
Setelah muter-muter gak jelas dan sempat nyasar juga untuk mencari jalan menuju Kraton Solo, akhirnya samailah kami di Kraton kasunanan Solo. Perjuangan untuk menemukan Kraton Solo ini adalah dengan mengelilingi alun-alun yang ada di sebelah utara dari Kraton tersebut. Beberapa kali kami melawati jalan yang sama hingga ada salah satu dari kami yang tercecer yaitu Kiki dan Fita. Namun akhirnya kami bertemu kembali dan sampai juga di Kraton.
Sebelum masuk kraton kami sempat bertanya kepada pedagang disekitar kraton untuk sekedar memastikan bahwa jalan kami benar. Lalu kami membeli karcis masuk ke kraton sebesar Rp 10.000,- sudah termasuk karcis masuk museum kratonnya. Setelah itu kami masuk ke obyek wisata Kraton kasunanan Solo. Namun waktu telah menunjukkan pukul 12.25 yang berarti telah masuk waktu Dzuhur. Aku, Kiki, dan Neni memutuskan untuk shalat terlebih dahulu sebelum melanjutkan penjelajahan. Lagi pula setelah kami bertanya kepada penjaga kraton, objek ini akan tutup dalam waktu 2 jam lagi. itu berarti masih ada waktu unuk shalat terlebih dahulu tanpa takut kehilangan waktu untuk menjelajahi kraton. Sementara aku dan yang lainnya shalat, Lutfi dan Fita yang sedang halangan melanjutkan penjelajahan di dalam kraton.
Aku, Kiki, dan neni shalat di luar kompleks kraton namun tidak begitu jauh. Hanya sekitar 100 meteran dari kraton. Setelah melakukan shalat dan doa seperlunya, kami segera kembali ke kraton dimana Lutfi dan Fita sudah menunggu. Di perjalanan menuju kraton, kami sedikit berpose di pinggir jalan. [ Hehe ababil e kumat. J ]
Oya, aku jadi teringat kejadian ketika aku dan teman-teman baru tiba di kraton. Pada saat itu, kami bar saja sampai dan langsung menuju ke toilet. Hla, ketika aku sedang duduk di kursi tunggu depan toilet bersama Lutfi, tiba-tiba ada seorang ibu-ibu yang meangaku berasal dari Blitar sedang protes kepada penjaga Kraton kareana tidak nyaman dengan keadaan toilet disana yang menurut ibu itu sangat tidak pantas dan tidak patut. Ibu itu bilang, toilet disana sangat kotor, dan memberikan saran untuk segera membersihkannya. Melihat banyak wisatawan yang datang kesana baik lokal maupun manca negara. Jika toiletnya kotor seperti itu akan menimbulkan ketidaknyamanan pengunjung. Kurang lebih begitu komentar dari ibu itu.
Bapak penjaga kraton ya tidak bisa bilang apa-apa, mungkin malu dan malah menyalahkan petugaas kebersihan disana yang saat itu memang orangnya tidak ada. Entah memang ada atau hanya sebagai pengalihan atas ras malunya atau bagaimana aku tidak tahu dan tidak mau ambil pusing soal itu. Namun, aku sangat mendukung pernyataan ibu itu tadi. Sungguh komentar dan reaksi yang patut diacungi jempol serta ditiru. Sebab saat ini orang-orang yang mau perduli terhadap lingkungan sekitar seperti itu sudah sulit sekali ditemui.
Kembali ke cerita sesungguhnya, setelah selesai sholat aku, Kiki, dan Neni segera kembali masuk kedalam kraton dan menemui Lutfi juga Fita yang sedang asik duduk di teras kraton. Belakangan aku tahu, ternyata mereka tengah asik menyantap arem-arem yang dibawa Fita dari Jogja. Setelah itu kami mulai memasuki wilayah pelataran Kraton Surakarta ini. Namun alangkah terkejutnya kami melihat papan peringatan yang berbunyi bahwa setiap pengunjung yang hendak memasuki are Kraton HARUS / WAJIB melepas alas kaki kecuali jika memakai sepatu. pada saat itu aku dan Lutfi hanya memakai sandal/sepatu sandal sementara yang lainnya memakai sepatu. Alhasil, aku dan Lutfi harus merelakan sendal dan sepatu sandal kami ditinggal di luar area demi mematuhi aturan.
Kemudian kami memasuki area kraton dan setelah sampai di dalam kami mengalami sedikit kekecewaan sebab akses pengunjung sangat terbatas. Pasalnya, disana banyak terdapat papan peringatan yang melarang pengunung untuk menyentuh benda-benda di kraton misal; patung, dikarang duduk di teras pendopo kraton; dilarang mengakses area tertentu dari pelataran kraton; dilarang bawa makanan; dll yang menurut kami sangat mengganggu kenyamanan pengunjung. Di sana akses pengunjung sangatlah terbatas dan banyak pula situs-situs pelengkap seperti patung dan gerobag andong yang terbengkalai karena rusak tidak terawat. Selain itu, banyak pula hisan-hiasan dinding yang di balut kain sehingga mengurangi keindahan kraton itu sendiri. Namun, di sini kami bisa memakluminya. Kami percaya pasti semua itu ada alasannya, mungkin kareana sudah adatnya atau peraturannya begitu. Tapi jika boleh memberi saran, tolong aset-aset budaya Indonesia yang masih  tersisa dijaga, dirawat dan dilestarikan agar dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan baik yang lokal maupun mancanegara.
Akan tetapi, dibalik kekecewaan itu kami merasa sedikit terhibur karena ada pengunjung balita yang sangat lucu bagi kami dan merupakan pemandangan yang cukup lucu. Seorang anak balita kira-kira berusia 3 tahunan yang sedanga bermain dengan pakdhenya. Menurutku anak itu mirip Brandon karena suara dan gaya rambutnya yang mirip Brandon. Selain itu, ada satu hal lagi yang lucu yaitu kata-kata Lutfi yang menyatakan bahwa dia saat masuk kraton terasa “ditelanjangi”. Tapi jangan berfikir negatif dulu, ditelanjangi disini adalah Lutfi yang tidak memakai alas kaki sehingga jadi telanjang kaki. Begituu...
Ini dia gambarnya..... :D


Setelah beberapa lama kami puas melihat-lihat kraton, kami pun berpindah ke Museum Kratonnya. Pada rute pertama tidak ada hal yang berarti yang kami alami. Seperti museum-museum pada umumnya, Museum Kraton in menyimpan berbagai benda-benda peninggalan sejarah diantaranya ada berbagai macam jenis wayang, artefak singgahsana raja, tempat tidur raja, alat makan, alat berburu, dan kelengkapan-kelengkapan lainnya pada masa keraaan dahulu. Tak lupa disana kami berfoto-foto, bernarsis-narsis ria. Setelah puas kami pindah ke sisi lain dari Museum ini. Disana kami melihat berbagai macam bentuk kendaraan zaman dahulu seperti andong, dokar dan lainnya. Disini pula kami mengalami hal yang sangat mengagetkan. Kenapa mengagetkan?? Mau tau???? Kasih tau gak ya??? Hehe..
Jadi begini, ketika lagi poto-poto ada bapak-bapak yang menawari kita poto. Aku dan temen-temen saling pandang lalu tiba-tiba salah satu dari kami -Kiki- ditarik sama bapak-bapak penjaga disana. Alhasil dia kaget dan terpaksa mengikuti bapak-bapak itu. Lalu kami pun tidak mungkin meninggalkannya sendiri akhirnya kami mengikuti dan gak tau kenapa, bapak-bapak tadi menyembah kendaraan yang ada disana. Dan memberikan kalung warna kuning kepada dua orang diantara kami. Mungkin itu sebagai syarat, dan kemudian poto-poto disana dimulai. Dan,,, ini dia hasilnya...


           Setelah itu kami melanjutkan penjelajahan, hingga tak terasa waktu sudah beranjak sore,, lalu kami memutuskan untuk pulang. Di perjalanan perut tersa lapar dan sudah tidak dapat ditahan lagi. Akhirnya kami memutuskan untuk mencari warung makan. Karena kami tidak begitu mengenal daerah sana maka, dalam pencarian ini ya seketemunya. Hingga akhirnya ditemukanlah sebuah warung makan sederhana namun terjamin di daerah yang agak tersembunyi dari jalan raya... Begini ni,, suasana makan sore kita waktu itu,,, hehe.. 

            Setelah merasa kenyang kami memutuskan pulang ke Jogja. Selama perjalanan pulang, sempat kehijanan juga namun tak masalah sebab sudah sedia payung sebelum hujan. Hehe. Dan sekitar jam enam sorean menjelang magrib kami memasuki wilayah administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Begitlah perjalan kami hari itu.. kapan-kapan kita jalan-jalan lagi yah kawan,, nanti bagi yang mau ikut boleh deh.. hehe.. SALAM TRAVLLING FOREVER..!!! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar