Rabu, 06 Juni 2012

CERPENKU

HANYA SEBUAH HARAPAN

Ketika sebuah masalah datang, tak semua orang mampu menyelesaikan masahnya dengan sempurna. Hanya orang-orang yang memahami arti kehidupan saja yang mampu menyelesaikanya. Ketika sebuah ujian adtang kepada seseorang, saat itulah keimanannya diuji. Mampu atau tidaknya ia menghadapinya tergantung pada seberapa besar keimanannya kepada Tuhannya.
Dalam cerita ini yang ada ialah sebuah perjuangan gadis kecil dalam menjalani kehidupannya yang penuh dengan liku-liku. Bahkan dalam usianya yang masih sangat belia ini dia harus mengahadapi kenyataan bahwa dirinya hidup sebatang kara tanpa adanya kasih sayang seorang ibu atau pun ayah.
Ya, kedua orang tuanya telah pergi meninggalkannya ketika ia masih kecil dulu. Saat itu bencana tengah menghantam desanya. Desa yang berada jauh dari keramaian, berada di tepi hutan nan sepi, sunyi. Perusakan hutan membuat penghuninya marah dan memporak porandakan apa yang ia temui. Saat itu terjadi ia masih berusia 16 bulan. Sedang dalam masa pertumbuhan.
Pagi itu, semua penduduk desa tengah melakukan aktifitasnya masing-masing. Ada yang mencangkul di ladang samping rumah, ada yang sedang memberi makan ternak unggasnya, dan aktifitas-aktifitas keseharian yang lain. Tak diketahui dari man datangnya, tiba-tiba segerombolan hewan hutan menerjang desa kecil itu tanpa ampun. Gajah-gajah yang besar dan liar membabi buta menghancurkan setia sudut desa. Ular-ular merayap menggerayangi setiap ruas jalan tanah yang ada menuju ke rumah penduduk dan menyerang penghuninya tanpa pandang bulu. Di sudut desa yang lain, tampak segerombolan singa dan macan mengamuk membuat seisi desa menjadi kacau dan dihantui kepanikan dan ketakutan.
Ketika itu, sang gadis kecil sedang bermain-main di halaman belakang sendirian. Sementara sang ibu tengah memasak di dekatnya sembari mengawasi sang anak, ayahnya tengah berkebun di samping rumah. Mendengar kekacauan yang terjadi sang ibu lantas panik dan ketakutan dan serta merta menggendong sang anak masuk rumah. Namun naas sang singa mampu menembus pintu dan membunuh sang ibu. Sementara sang gadis kecil hanya menangis ketakutan.
Dalam sekejap desa telah luluh lantah dan tak ada seorng pun yang masih hidup. Tak berapa lama setelah kejadian itu datang seorang pemburu yang tenagh melintas. Melihat sang gadis kecil sendirian merana melihat saudara se desanya telah pergi, tak tega pula dia. Lantas dibawanya sang agdis kecil ke gubugnya dikota. Di sana sang gadis dirawatnya bak putri sendiri. Hingga kini telah tumbuh menjadi gadis kecil yang tearmat manis.
Selama hidupnya di kota, ia tahu bahwa dirinya telah sebatang kara. Namun perjuangan hidupnya tiadalah mudah. Banyak hal yang ia hadapi dan temui di kota. Bapak angkatnya bukanlah seorang yang kaya, mak ia harus bekarja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan bapak angkatnya. Terlebih saat bapaknya mulai renta dan telah sakit-sakitan. Ia berjuang sendiri untuk mrnghidupi dirinya dan bapaknya.
Mungkin diantara kita hal itu adalah hal yang sangat luar biasa, namun bagi si gadis kecil ituadalah kesehariannya yang selalu ia lalui. Terkadang ada rasa iri pada teman2 sebayanya yang ia  temui di jalan ketika bekerja. Ia ingin seperti mereka yang bisa sekolah, belajar dan bermain. Namun apa daya. Angan tinggallah angan. Yang bisa ia lakukan hanya bermipi dan membayangkan itu akan terjadi pada dirinya.
Namun takdir berkata lain. Ia harus hidup seperti ini, menjadi gadis manis yang hanya bisa bermimpi. Yang mampu ia lakukan hanyalah berdoa agar suatu sat nanti ia akan mampu mewujudkan mimpinya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar