Minggu, 10 Maret 2013

PuisiKu


HARAPAN
Oleh : Weni Lestari

Dan janji tinggallah janji,
Semua berakhir untuk saat ini,
Semua yang telah ku impikan, ku dampakan, ku harapkan,
Semua tlah hilang lenyap,
Harapan tinggalah harapan,
Semu, bisu, beku,
Tak seorang pun akan mampu mengerti, apa arti dari semua ini,
Di dunia yang fana ini, memang tak akan ada yang sempurna,
Tak kan ada yang kekal, abadi,
Semua akan hilang, musnah, suatu saat nanti.
Seperti harapan, angan, dan cita yang mungkin akan kandas..
Namun jika boleh memohon,
Hamba ingin semua tak terjadi,
Jika hamba boleh meminta,
Satu yang hamba minta,,
Keajaiban dan keadilan yang hakiki..

22 Juli 2012
WL

TAHUKAH ANDA????


Taukah Anda Asal Mula Air di Bumi????

Mungkin sebelum itu, kita pasti akan berfikir, bagaimana mungkin bumi yang dahulu pada awal pembentukannya memiliki suhu yang teramat panas dapat memiliki cadangan air pada saat itu.???
Akan tetapi pada kenyataannya saat ini, bumi kita tercinta ini memiliki banyak cadangan air sehingga dapat dihuni oleh manusia. Bagaimana mungkin dapat terjadi????

Nah, ini dia jawabannya..
          Jadi, pada awalnya pembentukannya, bumi memang memiliki suhu yang sangat panas. sehingga kemungkinan danya air dibumi ini sangatlah mustahil.
Bumi, menurut teori  pembentukan Tata Surya, pada mulanya merupakan sebuah bentukan bola gas yang sangat panas dan berputar cepat. Perputaran yang sangat cepat ini pada akhirnya membentuk planet bumi yang saat itu suhunya masih sangat panas. Panas bumi ini pada akhirnya melelehkan sebagian material pembentuk bumi yang terwujud dalam bentuk magma. Magma adalah material bumi yang mencair akibat dari pemanasan oleh suhu yang tinggi. Kaena bentuknya yang cair, maka dapat dipastikan bahwa magma ini mengandung air yang ikut terlarut di dalam magma.
          Akibat dari pemanasan yang terus menerus ini dengan disertai penyinaran oleh matahari, air yang terkandung dalam magma secara perlahan mulai menguap dan mengisi atmosfer bumi. Radiasi matahari sebagian diserap oleh magma dan sebagian lagi diserap oleh uap air. Hal ini berlangsung dalam waktu yang lama hingga menyebabkan sebagian besar air yang terkandung dalam magma menguap dan magma yang panas tadi perlahan lahan mulai memadat. Sedangkan air yang menguap tadi membentuk uap air di sekeliling bumi dan membentuk atmosfer bumi. Selanjutnya, uap-uap air ini setelah terkumpul cukup banyak mengalami kondensasi sehingga turunlah hujan yang pertama dibumi. Magma yang tadinya panas menjadi dingin oleh guyuran hujan. Peristiwa ini berlangsung terus menerus hingga menyebabkan bumi menjadi banjir. Setelah berjuta-juta tahun lamanya peristiwa siklus hidrologi awal ini terjadi, lama kelamaan terbentuklah benua dan lautan pertama di Bumi dengan benua pertama adalah 'Pangea', sedngakan lautannya adalah 'Pantalesa'. 

Begitulah awal mula timbulnya air di Bumi kita tercinta ini.
Semoga bermanfaat. ^_^

(Sumber : Kuliah Hidrologi, Pendidikan Geografi UNY 2013)

Kamis, 07 Maret 2013

KILASAN

CANTIK

Kalau seorang wanita itu cantik, dengan apa kau ingin menukarnya?
dengan apa kau  ingin membelinya?
mengapa sedemikian besar keinginan mu memilikinya?

karena memiliki mata bagiku adalah kerugian
kecantikan itu membutakan

Kecantikan ibarat melihat pemandangan yang indah 
Jelita dalam wujud manusia

Bukankah lebih baik aku dilahirkan tanpa bisa melihat?
Agar mata tidak dapat menipuku
Agar kedipan dan ilusi tidak bisa membutakanku
Mata, jangan kau membohongi aku.
Jangan khianati pikiranku dengan keindahan yang sementara

Kisah-kisah lama menyebutkan
Malaikat-malaikat turun karena melihat eloknya anak gadis manusia
Ksatria bertempur dan berperang memperebutkan gadis jelita
Darah tumpah, kota dibakar, manusia dibunuh

Apakah zaman kini telah berubah??????

(Dikutip dengan perubahan, dari Karangan Prabamoro, Aquarini Priyatna, 2003)

Rabu, 30 Januari 2013

RENUNGAN


SUDAH EFEKTIFKAH TEMPAT SAMPAH DI KAMPUS MERAH KU??


Mungkin inilah pertanyaan yang terbersit dibenak kita sebagai penghuni kampus merah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta. Bagaimana tidak, di lingkungan kampus tercinta ini suatu benda yang bernama sampah tidak akan pernah terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Sampah merupakan suatu hal yang pasti ada disekitar kita, baik itu dalam bentuk sampah basah maupun sampah kering, baik itu di tempat yang terlihat kumuh maupun di tempat yang bersih sekalipun, sampah pasti akan tetap ada karena sampah merupakan bagian hidup manusia yang akan terus ada selama manusia masih berkembang.
Di setiap tempat, disetiap sudut pasti akan kita temui sampah meski itu dalam ukuran yang kecil. Sampah-sampah ini dapat berasal dari berbagai aktifitas yang dilakukan oleh manusia dalam hal ini adalah penghuni kampus mulai dari tukang kebun, mahasiswa, dosen serta jajaran birokrasi yang lain. Sampah-sampah ini haruslah diatur atau dikelola dengan baik. Jika tidak, maka akan menimbulakan berbagai macam masalah seperti bau yang tidak sedap, hilangnya keindahan, pemadangan yang tidak menyenangkan dan lain sebagainya. Oleh karena itu, pengelolaan sampah harus dilakukan dengan baik misal dengan cara menyediakan tempat sampah di setiap sudut kampus seperti di taman kampus, di toilet, di dalam kelas, di ruang dosen, atau bahkan diruang  dekan. Namun sayangnya, terkadang manusia menjadi sombong sehingga sering membuang sampah disembarang tempat meski telah disediakan tempat sampah di berbagai sudut kampus. Atau kalaupun telah membuang sampah pada tempat sampah, masih banyak orang yang membuang sampah tidak tepat pada wadahnya, seperti yang terjadi di FIS UNY.
Di Kampus Merah FIS UNY, telah disediakan banyak tempat sampah pada setiap sudut kampus. Pada setiap sudut, tempat sampah yang ada terdiri dari dua tempat sampah yaitu tempat sampah dengan warna biru dan berwarna orange. Pembedaan warna ini bukan tanpa tujuan akan tetapi memiliki makna yang sangat signifikan yaitu untuk membedakan mana tempat sampah untuk sampah basah atau sampah organik dan mana tempat sampah untuk sampah kering atau sampah non organik. Tempat sampah berwarna orange diperuntukkan bagi sampah basah atau sampah organik seperti daun-daun, ranting, bungkus makanan dari daun pisang, kertas, dan lain sebagainya yang merupakan jenis sampah yang mudah untuk diuraikan oleh mikro organisme. Sedangkan tempat sampah berwarna biru diperuntukkan bagi sampah anorganik atau sampah yang sulit diuraikan kembali oleh organisme di dalam tanah seperti plastik, kaca, dan masih banyak lagi.
Namun yang terjadi saat ini, masih banyak mahasiswa yang membuang sampah secara asal tanpa memperhatikan mana tempat sampah untuk jenis sampah basah dan mana tempat sampah untuk jenis sampah kering. Hal ini terjadi dikarenakan kurangnya pengetahuan mahasiswa akan makna warna pada tempat sampah serta didukung juga oleh adanya pengangkutan sampah oleh petugas yang tidak memisahkan antara sampah organik dan anorganik.
Universitas sebagai salah satu lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menanamkan kepada seluruh sivitas akademika agar selalu menjaga lingkungan. Hal ini tentunya sesuai dengan tujuan pendidikan yang tercantum dalam UU RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 yang menyebutkan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan tujuan tersebut, maka sangat jelas bahwa salah satu tujuan pendidikan nasional adalah untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang cinta lingkungan, kebersihan, keindahan serta kenyamanan sehingga terwujudlah lingkungan yang sehat. Apabila lingkungan sehat, maka proses pembelajaran yang berlangsung di lembaga pendidikan ini pun akan menjadi lebih efektif dan efisien.
Untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan usaha yang terintegrasi antara mahasiswa, dosen, serta jajaran birikrasi dalam hal pemanfaatan tempat sampah agar menjadi lebih efektif. Sosialisasi kepada seluruh warga kampus sangat diperlukan agar mereka memahami arti dari warna tempat sampah tersebut sehingga parapenghuni kampus dapat membuang sampah pada tempatnya dan tepat pada tempatnya agar pengelolaan lebih lanjutnya pun akan lebih mudah. Selain itu, pihak birokrasi perlu pula mensosialisasikan serta menentukan kebijakan agar masalah pengangkutan sampah dari setiap tempat sampah benar-benar sesuai dengan yang semestinya yaitu dilakukan pemisahan antara sampah basah dan sampah kering sehingga sampah sampah tersebut dapat dimanfaatkan kembali dan mengahsilkan profit yang cukup menjanjikan. Selain itu, perlu pula dibentuk suatu lembaga yang menangani masalah sampah ini dengan tugas untuk memanagemen terkait sampah ini mulai dari pemisahan saat pembuangan sampah awal pada tingkat yang paling rendah hingga ke pemebuangan sementa maupun ke pembuangan akhir.

Weni Lestari
Pendidikan Geografi